Boni ingin mengecek langsung kondisi masyarakat di 10 kampung terdampak yang dilaksanakan dari Kampung Mamahak Teboq, kemudian menuju ke Kampung Lutan dan dilanjutkan ke lima kampung berikutnya yaitu Kampung Datah Bilang Ilir, Datah Bilang Baru, Datah Bilang Ulu, Kampung Long Hubung Ulu dan Long Hubung Ilir, Kecamatan Long Hubung, dilanjutkan ke Kecamatan Laham yakni Kampung Laham, Danum Paroy dan Kampung Long Gelawang.
Di Kampung Mamahak Teboq, Bonifasius mendengar keluhan warga terdampak. Seorang warga menyampaikan kepada Bonifasius ada satu titik yang masih terendam namun segera surut karena banjir di kawasan jembatan itu setinggi mata kaki.
Bonifasius mengaku bersyukur bisa berkumpul dengan warga di kecamatan tersebut setelah dilanda bencana besar yang memberi dampak besar bagi semua pihak. "Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena semua diberi kesempatan, kesehatan pasca banjir besar yang dihadapi berapa hari yang lalu," ujar Boni.
Fenomena banjir yang terjadi di Mahulu kali ini dianggap Bonifasius tidak disebabkan oleh aktivitas membabat hutan di Mahulu yang dilakukan pemerintah atau masyarakat setempat. "Biar pun ada, itu hanya untuk kebutuhan. Berladang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan itu pun angkanya tidak besar. Fenomena alam ini sudah terjadi dari zaman nenek moyang sebenarnya," papar Boni lagi.
Warga setempat diimbau untuk selalu waspada akan banjir yang selalu datang tiba-tiba dan pemerintah kampung juga harus tanggap akan antisipasi bencana. "Tapi hal yang paling penting adalah semua dapat memetik pelajaran atau makna dari bencana ini karena kemungkinan datang lagi," tutup Bonifasius.
Ikut mendampingi Bonifasius Kapolres Mahulu Anthony Rybok, Kepala BPBD Agus Darmawan, Kadis PUPR Didik Subagya, Kadisdidkbud Mahulu Samson Batang, Kepala BPKAD Yohanes Andy Abeh, Kasatpol-PP Mahulu Dionesius Jihermijen dan Kadis Kominfostandi Mahulu Markus Wan.
Editor: Aspian Nur