Kampung Noha Tivab dan Long Apari ini adalah dua kampung yang letak Tempat Pemungutan Suara (TPS) nya paling jauh dan terdalam dari empat kecamatan lainnya yang berada di Mahulu.
Karena itu akses dari ibu kota kabupaten Ujoh Bilang ke dua kampung ini hanya bisa dilalui jalur sungai dan harus melewati puluhan riam yang dibarengi dengan batu-batuan besar yang terbentang di tepi induk sungai mahakam.
Kelima PPK tersebut mengirim logistic Pemilu bersama Panita Pengawas Kecamatan (Panwascam) Long Apari, Dinas Perhubungan (Dishub) dan personel dari Polres Mahulu.
Kepala Dishub Mahulu Fransiskus Xaverius Lawing melalui Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Umum Papilus Panyu yang ikut mengawal dan berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP) menjelaskan terkait kejadian ini kepada Korankaltim.com siang tadi.
Peristiwa itu terjadi Senin (12/2/2024) kemarin. Satu dari lima perahu yang ditumpangi PPK ingin menanjak riam takung tiba-tiba hilang kendali karena kipas perahu terlepas setelah sebelumnya menabrak batu di dalam sungai. Perahu mundur ke arah hilir hingga terbalik lantaran tidak ada kekuatan mesin untuk melawan arus sungai yang sangat deras.
Terbaliknya perahu tersebut membuat empat penumpang bersama motoris yang membawa ketinting tersebut akhirnya masuk ke dalam sungai.
Melihat kejadian itu, Panyu menyebut empat perahu lainnya yang ditumpangi termasuk dirinya langsung melakukan evakuasi. "Untungnya semua penumpangnya selamat, logistik aman. Karena kan yang karam ini perahu teman-teman yang ikut mengantar. Kalau perahu yang membawa logistik nya, aman-aman saja," jelas Panyu.
Ketua PPK Kecamatan Long Apari Petrus Ajung mengatakan penyaluran logistik pemilu menggunakan ketinting memang sudah direncanakan pihaknya karena kondisi Sungai Mahakam pada saat keberangkatan dari Kampung Tiong Ohang ke Long Apari dan Noha Tivab itu masih stabil dan tak mengira kondisi cuaca bakal berubah. "Sungai di hilir sini bagus. Waktu mereka berangkat kan memang masih aman-aman saja," ujar Ajung.
Musibah itu pastinya tak diharapkan terjadi apalagi sebelum keberangkatan semua mesin serta perahu sudah dicek terlebih dahulu. "Tapi memang karena kondisi alam dan air dari anak sungai sekitar situ tiba-tiba pasang akhirnya arusnya keluar ke induk sungai kemudian membuat arus di luar menjadi sangat deras. Makanya, mesin perahu juga tiba-tiba hilang kendali," paparnya.
Editor: Aspian Nur