Dijelaskannya, salah satu hasil perkebunan yang bisa mereka kembangkan adalah durian. Durian-durian yang selama ini dijual di berbagai daerah di Kaltim dengan sebuta Durian Melak berasal dari kampung 565,11 kilometer persegi ini. Kesuburan tanah mereka juga dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman jahe dan beberapa rempah yang menjadi salah satu sumber penghidupan bagi 2 ribu jiwa warga yang bermukim di kampung ini.
“Tapi memang kami masih belum paham bagaimana mengembangkan lahan. Jadi kadang kami masih berpindah-pindah,” sambungnya.
Kurangnya pehamanan yang diterima warga kampungnya lah yang juga menjadi salah satu penyebab kampung Intu Lingau belum bisa tergabung dalam program Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) yang merupakan kerjasama antara World Bank atau Bank Dunia bersama Pemprov Kaltim. Padahal luasan hutan dan tutupan lahan dikampung tersebut sangat memenuhi standar untuk mengurangi emisi Gas RUmah Kaca.
“Kami berharap bisa ikut tergabung dalam FCPF setelah mendapat pemahaman yang mendalam. Karena sebenarnya tergabung atau tidak, hutan kami dan seluruh usaha kami disini cukup berperan dalam mengurangi emisi,” pungkasnya.
Penulis: Permata S. Rahayu
Editor : Rusdi