Minggu, 26/07/2026
Minggu, 26/07/2026
Ilustrasi obat HIV/AIDS. (Foto: Alodokter)
Minggu, 26/07/2026

Ilustrasi obat HIV/AIDS. (Foto: Alodokter)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Angka kematian akibat HIV/AIDS di Kota Samarinda masih menjadi perhatian serius. Meski upaya pencegahan dan deteksi dini terus diperkuat, puluhan penderita tetap meninggal dunia setiap tahun.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, Ismed Kusasih, mengungkapkan hingga Juni 2026 tercatat 29 kasus kematian akibat HIV/AIDS. Jumlah ini memang lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun tetap menunjukkan bahwa penanganan penyakit tersebut masih menghadapi tantangan besar.
Berdasarkan data Dinkes Samarinda, angka kematian akibat HIV/AIDS pada 2024 mencapai 102 kasus, kemudian meningkat menjadi 103 kasus pada 2025. Sementara hingga pertengahan 2026, jumlah kematian telah menyentuh 29 kasus.
Tingginya angka kematian ini umumnya disebabkan keterlambatan diagnosis. Banyak penderita baru mengetahui status HIV saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut atau berkembang menjadi AIDS, sehingga peluang penanganan menjadi lebih terbatas.
“Kalau ditemukan lebih awal, peluang hidup jauh lebih baik karena pengobatan bisa segera diberikan,” kata Ismed.
Hingga Juni 2026, jumlah kumulatif penderita HIV/AIDS di Samarinda mencapai 4.427 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.494 orang tercatat aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV).
Sementara itu, sepanjang semester pertama 2026 ditemukan 184 kasus baru HIV. Kelompok laki-laki suka laki-laki (LSL) menjadi penyumbang terbesar dengan proporsi mencapai 41 persen dari total kasus baru.
Persentase tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang berada di angka 30 persen dari total 492 kasus baru.
Untuk menekan angka kematian sekaligus memperluas penemuan kasus sejak dini, Dinkes Samarinda terus memperkuat berbagai program. Salah satunya melalui pemeriksaan atau skrining terhadap kelompok berisiko.
Sepanjang 2025, capaian skrining HIV berhasil mencapai 99,8 persen atau sebanyak 43.568 orang, sehingga memenuhi target Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Sementara pada 2026, hingga pertengahan tahun telah dilakukan skrining terhadap 19.577 orang atau sekitar 45 persen dari target tahunan sebanyak 43.189 orang.
Selain memperluas skrining, Dinkes juga menjalankan sejumlah inovasi penanggulangan HIV/AIDS, di antaranya layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) Mobile yang menyasar lokasi berkumpulnya populasi berisiko, program Tri Eliminasi bagi ibu hamil untuk mendeteksi HIV, sifilis, dan hepatitis B, serta layanan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) secara bergerak bagi kelompok rentan.
Program lain yang dijalankan meliputi edukasi lintas sektor dan kelompok remaja, penambahan jam layanan HIV di Puskesmas Palaran dan Puskesmas Temindung, penguatan laboratorium bergerak penyakit menular, hingga penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penanggulangan HIV/AIDS Tahun 2026 bersama DPRD Samarinda.
“Deteksi dini menjadi kunci. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang penderita hidup sehat dengan pengobatan yang tersedia secara gratis,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Minggu, 26/07/2026
Ilustrasi obat HIV/AIDS. (Foto: Alodokter)
TERPOPULER