Jumat, 15/05/2020
Jumat, 15/05/2020
Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim, Muhammad Edi Muin
Jumat, 15/05/2020

Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim, Muhammad Edi Muin
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA– Sejak adanya anjuran Work From Home (WFH) dari pemerintah setelah di Indonesia terjadi pandemi Covid-19 sejak awal Maret lalu, ternyata ada pihak yang paling siaga terkait kebijakan tersebut, yakni Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang mengurusi program keluarga berencana yang terkenal dengan jargon “Dua Anak Cukup”.
Ancaman yang paling dikhawatirkan dari BKKBN adalah baby boom atau ledakan angka kelahiran bayi pasca pandemi Covid-19. Bahkan, saat ini BKKBN berupaya terus mengawal dan membina kesetaraan ber-KB untuk mengantisipasi baby boom tersebut.
Korelasi antara WFH dengan ancaman baby boom sangat erat, apalagi ketika suami istri terlalu sering di rumah atau ‘stay at home’ tidak dimungkiri kontak seksual akan terjadi dan hal ini adalah situasi yang lumrah.
Kepala perwakilan BKKBN Provinsi Kaltim, Muhammad Edi Muin mengatakan, pihaknya langsung menginisiasi pembentukan call center KB untuk memberikan pelayanan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kesehatan reproduksi dan pelayanan KB kepada masyarakat guna mencegah cegah putus pakai pemakaian kontrasepsi.
“Di era pandemi Covid-19 saat ini, terdapat penurunan capaian peserta KB baik di Provinsi Kaltim maupun Kaltara. Kenapa demikian? Hal ini dikarenakan penyuluhan KB, PLKB dan juga kader-kader intensitasnya menjadi menurun karena harus menjaga jarak atau karena phsycal distancing atau sosial distancing,” katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, bukan itu saja, pandemi Covid-19 juga berimbas pada penurunan aktifitas dalam kelompok kegiatan seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), Bina Keluarga Lansia (BKL), Pusat Informasi Konseling (PIK) remaja dan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) serta penurunan mekanisme operasional di lini lapangan, termasuk di kampung KB.
“Pertemuan Pokja dan pemantauan oleh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) KB tidak bisa optimal. Hal ini bukan tanpa alasan, tentu karena banyak para akseptor KB yang merasa takut ketika hendak mengakses pelayanan KB di masa Pandemi Covid-19 ini,” tuturnya.
Salah satu solusi dan strategi yang dilakukan adalah dengan membentuk call center KB disetiap provinsi dan kabupaten/kota bekerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) provinsi dan kabupaten/kota yang ada di Kaltim dan juga Kaltara.
“Call center KB diharapkan mampu memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat yang membutuhkan. KIE kesehatatan reproduksi dan pelayanan KB tetap berjalan dengan memperhatikan protokol-protokol pencegahan penyebaran Covid-19 . KIE dan pelayanan KB dapat terus dilakukan dengan mengurangi kontak langsung antara petugas dan masyarakat yang ingin ber-KB. Call center KB juga menjadi penghubung dan pusat informasi antara masyarakat dan pengelola KB provinsi dan kabupaten/kota. Jadi masyarakat tidak perlu kuatir kami dari provinsi hingga ke kabupaten/kota, tenaga lini lapangan, bidan dan petugas pelayanan KB di fasilitas kesehatan kabupaten/kota hingga ke kecamatan siap membantu masyarakat,” jelasnya.
Berdasarkan data resmi BKKBN, jumlah pasangan usia subur di Indonesia mencapai 28 juta pasangan. Jika pengguna kontrasepsi turun 10 persen saja dari 28 juta pasangan usia subur , maka akan ada 2,8 juta pasangan yang berpotensi hamil. Bila secara biologis suami istri berhubungan intim dua sampai tiga kali dalam sepekan, maka secara teori sekitar 15 persen diantaranya akan hamil. (*/mr220)
Jumat, 15/05/2020
Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim, Muhammad Edi Muin
TERPOPULER