Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Masri. Dia mengungkapkan, salah satu kendala belum bisa dioperasikannya alat tersebut, lagi-lagi adalah karena daya listrik untuk ke pabrik yang masih belum tersedia.
Bahkan jikapun dimaksimalkan dengan penggunanan generator set (genset) akan memberatkan warga. Hal ini karena biaya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menghidupkan genset lebih besar ketimbang hasil yang akan diperoleh oleh nelayan.
Terlebih sumber anggaran untuk penyediaan BBM juga belum bisa terpenuhi. “Pabrik es kapasitas 10 ton itu memerlukan daya sekitar 100 KvA. Nah sebelumnya kita upayakan bisa dikelola melalui koperasi, tapi ternyata itu juga tidak memungkinkan,” ujarnya.
Sehingga salah satu alternatif lain adalah agar untuk pengoperasian pabrik itu, kata dia, ke depan bisa langsung oleh BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) setempat. “Saat ini kita masih komunikasikan ke kementrian terkait, apakah diperbolehkan seperti itu atau tidak,” kata Masri.
Diungkapkan, pembangunan ice flake tersebut merupakan proyek bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun anggaran 2016 lalu. Dengan nilai anggaran Rp 2,4 miliar.
Masri mengatakan, mesin ini memiliki kapasitas besar yaitu mencapai 10 ton. Namun karena daya yang tidak ada, tidak bisa dioperasikan.
Masyarakat sempat memfungsikan alat tersebut dengan menggunakan Genset. Namun karena biaya untuk pembelian BBM yang tinggi, dihentikan. Es curah yang dihasilkan belum sebanding dengan penghasilan nelayan yang masih dibawah dari kapasitas yang diperuntukkan.
“Kurang tepat mungkin itu, padahal kalau kapasitasnnya diturunkan sedikit mungkin kita bisa maksimalkan genset saja sudah bisa operasi. Terlebih dengan produksi besar itu dimungkinkan juga belum bisa dimaksimalkan oleh para nelayan setempat,” jelasnya.
Masri berharap ke depan jika diperbolehkan dikelola oleh BUMDes, maka pembiayaan untuk kebutuhan BBM pabrik itu bisa terakomodir.
“Jika berfungsi dengan baik, pabrik ini sangat membantu masyarakat. Terutama nelayan. Pasalnya selama ini mereka harus membeli es batu dengan harga mahal, itu pun kadang susah diperoleh. Nah dengan adanya es dari pabrik itu, nelayan gampang mendapatkan, untuk mengawetkan ikan-ikan hasil tangkapannya sebelum dijual. (an)