Makinun yakin, tepung yang diproduksinya tidak mengandung gluten berupa lem yang dapat menyebabkan suatu penyakit karena bahan bakunya tidak mencampur dengan lainnya kecuali singkong. "Tepung mokaf dari singkong ini tidak mengandung gluten yang mirip lem dan dikhawatirkan dapat menyebabkan suatu penyakit," imbuhnya.
Produksinya selama ini disuplai ke toko-toko dan pasar di Nunukan sambil mencari peluang pasar di daerah lainnya di Kaltara. Ia pun mengatakan, tepung yang diprokdusinya ini telah mendapatkan tawaran dari Negeri Jiran Malaysia tetapi belum dilayani sehubungan dengan pandemi Covid-19.
Makinun berharap, ke depannya pemerintah daerah dapat mengakomodir peningkatan produksi terutama bahan baku dan pemasarannya. Untuk kebutuhan masyarakat Nunukan sendiri, tepung mokaf ini dapat dijadikan beras analog.
Pabrik pembuatan tepung mokaf yang berada di Jalan Pesantren Hidayatullah Kelurahan Selisun ini, mampu memproduksi hingga 500 kilo gram tepung setiap hari. Untuk meningkatkan produksi, Makinun berencana menambah satu mesin lagi agar mampu mencapai satu ton setiap hari.
Bahan baku berupa tanaman singkong telah dipersiapkan sejak setahun lalu dan kini luas lahan sudah mencapai 40 hektar yang siap panen. Ada tiga langkah yang dilakukan agar tidak kekurangan bahan baku yakni, plasma, bagi hasil dan mandiri.
Sekaitan dengan perhatian Pemkab Nunukan sendiri, Makinun mengucapkan, telah mendapatkan bantuan dan keterlibatan pemda sangat besar terhadap pengembangannya. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di antaranews.com hari Rabu 14 Oktober 2020 dengan judul Warga Nunukan produksi tepung dari singkong lokal