"Karena pengaruh virus Corona, semua pasar eksportir ke
China serang tidak terima barang dari Indonesia. Jadi harga burung walet ini
juga turun sekarang," ujar Fazrin.
Terkait besaran penurunan harga yang dialami pada Awal
Februari ini. Diungkapkan Fazrin bisa mencapai 30 sampai 40 persen. Kondisi ini
merata untuk sarang burung walet dari jenis mangkok, sudut dan patahan.
"Awal Bulan satu kemarin, harga sarang burung walet
untuk yang mangkok Rp13 juta/kg, untuk yang sudut itu Rp9 juta dan untuk
patahan harganya Rp7 juta. Itu langsung merosot di bulan dua ini. Sekarang
harga sarang burung walet yang mangkok jadi Rp9 juta, yang sudut Rp7 juta dan
yang patah itu Rp5 juta," Jabar Fazrin.
Sampai dengan saat ini, Fazrin belum bisa memprediksi kapan
harga sarang burung walet bisa membaik. Namun dirinya dan pelaku usaha serupa
sangat berharap agar keran masuknya produk ekspor bisa segera dibuka pemerintah
China. " Belum ada kepastian kalau untuk harga sampai kapan begini
(turun). Ya semoga saja badai cepat berlalu," imbuh Fazrin.
Terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan
Utara, Eko Marsoro menyampaikan, virus Corona memang menjadi kabar buruk bagi
stabilitas harga komoditi Indonesia yang diekspor ke China. Menurut Eko, hal
ini sudah menjadi isu nasional yang kerap disampaikan Presiden Indonesia, Joko
Widodo, dalam beberapa kali pidato kenegaraannya.
"Sebenarnya tidak hanya ekspor saja yang terganggu.
Karena dalam efek lebih luasnya juga akan negatif bagi perekonomian Indonesia,
termasuk di Kaltara," ujar Eko melalui sambungan telepon di hari yang
sama.
Dipaparkan Eko, saat ini memang belum ada solusi alternatif
yang bisa ditempuh dengan cepat untuk memperbaiki harga komoditi ekspor dari
Indonesia. Sehingga pada skala makro, pemerintah daerah diarahkan bisa
menstimulus pergerakan sektor ekonomi lain untuk menjaga laju pertumbuhan
ekonominya.
"Solusi awalnya adalah menunggu China membuka
kembali pintu masuk untuk produk ekspor dari Indonesia. Karena kalau untuk
mencari alternatif negara tujuan ekspor lain tergolong susah. Selama menunggu
ini, Pak Presiden sudah mengingatkan agar di daerah tetap menjaga pertumbuhan
ekonominya," tutup Eko.
Penulis: KoranKaltara.com