Selain itu, disebutkannya, dari sekitar 140 koperasi yang ada, 20 persen di antaranya saat ini sudah tak aktif lagi. Bahkan pada tahun lalu, ungkap Iwan--sapaan akrabnya, sudah ada sekitar tujuh koperasi yang dibubarkan, karena tidak aktif.
Dia mengungkapkan, rata-rata koperasi yang tak aktif dikarenakan adanya persoalan internal masing-masing. Termasuk terkendala pada masih minimnya modal. Meskipun sejauh ini pihaknya juga terus lakukan pembinaan dan sosialisasi agar koperasi yang ada bisa terus memaksimalkan perannya.
“Salah satu contohnya, peran koperasi dalam hal usaha kecil dan menengah, yang selama ini masih kurang. Kendalanya, karena suplayer barang dagangan saja masih didominasi oleh usaha perorangan, bukan dari koperasi. Tentu saja itu juga jadi kendala. Untuk itu, koperasi juga harus mampu bersaing. Sehingga perannya ke depan bisa lebih diperhitungkan lagi,” jelas Iwan.
Dalam hal ini, dikatakakannya, pemerintah daerah hanya sebatas memfasilitasi dan melakukan pembinaan secara kelembagaan. Dia mengakui, beberapa tahun terakhir secara kuantitas, koperasi terus bertambah. Eksistensinya di lapangan juga masih jauh dari harapan.
“Keberadaan Koperasi di Bulungan baru terlihat perkembangannya 10 tahun terakhir. Saat ini agar koperasi bisa lebih serius, pemerintah juga menerapkan berbagai kebijakan. Termasuk pengesahan badan hukum yang dilakukan melalui kementerian terkait. Tidak lagi didaerah. Meski demikian, apapun itu koperasi yang sudah ada tetap kita lakukan pembinaan. Sehingga bisa lebih baik ke depan,” pungkasnya. (an)