Misman, Aktivis Penggerak GMSS SKM yang Tak Pikirkan Penghargaan
2 menit baca1.257 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Menyebut nama Misman ingatan banyak orang sudah pasti ke Sungai Karang Mumus (SKM).
Ya, pria berambut gondrong itu memang sudah tak asing lagi di kalangan para penggiat lingkungan di Kaltim, khususnya Samarinda.
Misman selama ini bersahabat dengan SKM karena terkenal sebagai salah satu promotor kebersihan sungai yang membelah Kota Tepian itu.
Melalui komunitas Gerakan Memungut Sehelai Sampah (GMSS), Misman telaten membersihkan SKM dari sampah, aktivitas yang dilakukan sejak tahun 2015 atau lima tahun silam.
Namun jauh sebelum itu, seorang diri Misman berinisiatif mendayung perahu untuk membersihkan SKM dari sampah-sampah yang larut.
Hasil kerjanya pun membuahkan hasil, pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2021 ini, Misman dicalonkan sebagai Tokoh Penerima Kalpataru untuk Piagam Penghargaan Provinsi Kaltim.
“Ini bukan yang pertama dapat penghargaan seperti ini tapi penghargaan seperti ini bukan target saya,” tegas Misman kepada korankaltim.com Jumat (25/6/2021) kemarin.
Di tingkat nasional, Misman menyebutkan dirinya juga sudah pernah memperoleh penghargaan atas upayanya menjaga sungai di Samarinda. Bahkan sudah tiga penghargaan yang ia terima. Namun ia kembali menegaskan hal-hal seperti itu tidak pernah terbersit di dalam pikirannya karena fokus utamanya hanyalah untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya sungai dan daerah pinggiran sungai.
“Bagaimana caranya menjaga sungai supaya tidak seluruhnya dibeton. Supaya eksosistem tetap hidup,” papar Misman.
Menurutnya, yang selama ini dilakukannya bukan semata-mata untuk menajag ekosistem sungai. Namun jangka panjangnya untuk manjaga keberlangsungan kehidupan manusia kedepannya karena 70 persen lebih permukaan bumi ini didominasi air, maka manusia akan kesulitan melanjutkan hidup jika sumber air mereka mengalami kerusakan.
“Sungai ini aliran air, sumber air yang harus dijaga. Jadi kehidupan manusia, dan makhluk Tuhan lain harus terus dijaga. Kalau mau selamat di dunia, selamatkan air,” jelas pria berusia 55 tahun ini.
Meski begitu, ia tak menampik penghargaan yang diterimanya selama ini mampu memberikan dorongan semangat bagi kerja kerasnya di lapangan. Dengan penghargaan dari pemerintah, membuktikan keberadaannya dan komunitas GMSS sudah diakui.
“Jadi kemudian kalau saya membela sungai, membela hutan ya tidak boleh diprotes. Kan saya diakui, diberi pengahrgaan. Mestinya didukung,” tutup Misman.
Penulis: */Permata S Rahayu
Editor: Aspian Nur










