Diketahui dalam insiden kebakaran tersebut, total ada 56 rumah serta dua tempat ibadah yakni gereja dan langgar terbakar. Akibatnya 57 Kepala Keluarga (KK) atau 227 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Api berasal dari kediaman Lakiding yang tengah kosong, ditinggal untuk berjualan sembako di pasar malam Kelurahan Mangkurawang. Belum diketahui penyebab kebakaran namun kuat dugaan akibat arus pendek listrik.
Menurut Lakiding, insiden kebakaran ini sudah keempat kali dialaminya. Pertama terjadi di Pasar Tangga Arung periode 1990 silam, saat itu rumah yang ditempati bersama istrinya ludes dilahap api.
Insiden kedua terjadi di tepi Jl Maduningrat, tidak jauh dari gereja pada 2011 silam. Kebakaran itu diduga juga berasal dari rumah kontrakan Lakiding. “Katanya seperti itu dari kontrakan, tapi pastinya nggak tahu. Waktu itu saya juga diperiksa dan dibawa ke kantor polisi,” bebernya.
Namun, kata dia, saat kebakaran 2011 itu dirinya tidak melihat langsung sumber api karena saat kebakaran ia keluar rumah lewat pintu belakang, bukan pintu depan. “Di depan itu memang ada kios kayu untuk jualan, kan pinggir jalan. Nah, waktu itu saya memang menyewakan rumah colokan listrik ke pedagang depan kontrakan,” bebernya.
Mirisnya selang dua atau bulan, Lakiding kembali menjadi korban kebakaran tidak jauh dari lokasi kebakaran kedua. “Kejadian ketiga saya nggak tahu penyebabnya tapi titik apinya banyak. Kami sempat juga disuruh pergi dari lokasi itu,” terangnya.
Insiden teranyar terjadi 16 Januari 2019 lalu. Lagi-lagi sumber api dari kediaman Lakiding. “Saya awalnya nggak tahu ada kebakaran. Informasi awal saya liat di HP teman itu kejadian di Maduningrat, tapi setelah melihat lagi belakang Toko Dafina. Saya pulang sudah habis terbakar,” jelasnya.
Insiden kebakaran ini sendiri membuat Lakiding berpikir untuk pindah tempat tinggal atau pergi dari Kelurahan Melayu. “Rencananya tanah di RT 14 ini mau dijual kalau ada yang mau beli, mau pindah ke Loa Ipuh,” terang Lakiding kepada Koran Kaltim.
Penulis: Amin
Editor: Muh.Huldi