“Selama ini mereka ekspor perkayuan masih melewati Surabaya, sehingga Surabaya yang mencatatkan ekspor. Begitu juga pajaknya yang dapat di Surabaya bukan Kaltim,” ungkapnya, Rabu (5/12).
Dia menjelaskan, ekspor langsung dari Pelabuhan Kariangau Balikpapan sudah memangkas waktu dan biaya pengiriman barang ke sejumlah negara.
Contoh saja, jika biasanya ekspor ke Cina dari Kaltim memerlukan 37 hari, kini cukup 17 hari. Kaltim kini sudah bisa memangkas 20 hari proses ekspor.
Namun diakui Hadi selama ini memang direct call belum maksimal. Masih banyak komoditas-komoditas yang didata untuk bisa ekspor langsung dari pelabuhan Peti Kemas Kariangau Balikpapan.
“Kami minta pengusaha harus bisa memanfaatkan fasilitas ini. Selain menghemat waktu, direct call juga turut memacu peningkatan PAD (pendapatan asli daerah),” tuturnya.
Diyakinkannya, direct call akan menjadi stimulus perkembangan kawasan industri Kaltim dan juga mempercepat transformasi ekonomi daerah.
“Para pengusaha di Kaltim bisa memanfaatkan keuntungan besar dari sistem direct call ini. Sebab, selain waktunya lebih singkat tentu biayanya juga lebih murah yang bisa menekan biaya logistik kita,” tukasnya.
Sarana prasarana pelabuhan Kariangau, kata Hadi juga sudah siap. Beberapa sarana penunjang yang masih dibangun, menurut Hadi hanya perlu penyesuaian saja.
“Itu hanya sisi darat saja. Tapi untuk proses pengapalan sudah bisa,” ujar Hadi.
Hadi juga membantah, kabar direct call Kariangau butuh waktu lama lagi dan baru bisa dilakukan Bulan Oktober 2018.
“Nggak lama kok, karena direct call itu kerjasama dengan Pelindo IV,” katanya.
Direct call melalui Pelabuhan Balikpapan nantinya memberikan efek positif bagi perekonomian Kaltim dan sekitarnya.
Biaya logistik USD 300 - 500 per kontainer akan bisa ditekan dan lama pengiriman komoditas dari Kaltim ke sejumlah negara tujuan ekspor bisa dipangkas. (rs)