Fitriyadi menceritakan bagaimana kepanikan terjadi saat gempa dan tsunami menerjang wilayah itu. Hampir semua bangunan rata dengan tanah. Korban berjatuhan dan akses serta jaringan komunikasi menjadi amat sulit.
“Jembatan dan jalan ke bandara selain Palu banyak yang putus. Bandara Palu belum ada didaratin pesawat komersil. Sejak kemarin hanya helikopter dan pesawat hercules TNI yang mendarat. Jaringan juga susah, listrik mati total, keadaan kota lumpuh,” ungkapnya melalui pesan WhatsApp.
Jumat (28/9) lalu, merupakan waktu mereka untuk bertanding. Namun, faktanya berbeda. Situasi menjadi kacau. Orang-orang berlarian begitu merasakan guncangan. Tak lama kemudian, tsunami menyapu habis wilayah itu. Enam atlet Kaltim termasuk beruntung karena bisa selamat dari musibah ini.
“Kami ingin membantu evakuasi di lokasi terparah, namun tidak maksimal karena masih ada isu air naik dan gempa susulan, jadi kami membantu mengebumikan satu jenazah korban reruntuhan Masjid Agung Palu, yang mana saat kejadian beliau sedang azan,” tuturnya.
Menurut Fitriyadi, ratusan jenazah berserakan di beberapa kawasan. Petugas SAR dibantu warga hilir mudik mengevakuasi mayat. Hanya sebagian dari jasad korban yang bisa dikenali.
“Di Rumah Sakit Tentara, pasien sangat banyak, mayat-mayat terus berdatangan diantar relawan dan pergi diambil oleh keluarga,” ungkapnya.
MULAI DIEVAKUASI
Sementara empat dari dua atlet panjat tebing Kaltim asal Balikpapan Anisa Aulia dan Nova Bina Wardani, sudah dievakuasi pada Minggu (30/9) kemarin. Keduanya diterbangkan dari Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu menuju Makassar.
Pengurus Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Balikpapan, Ruslan mengatakan, Anisa dan Nova dievakuasi terpisah dari rekan-rekannya karena keterbatasan angkut pesawat hercules milik TNI AU.
“Prioritasnya atlet perempuan dulu dan bandara di sana juga krodid karena banyak atlet serta warga yang kumpul. Bandara juga dijadikan posko penampungan,” kata Ruslan saat dihubungi Koran Kaltim, Minggu (30/9).
Untuk Jamal Al Hadad dan Arga Nur Adi, dua atlet Balikpapan lainnya masih menunggu giliran untuk diterbangkan. Sementara, Fitriyadi dan Herlangga dari Kutai Timur belum diketahui kabarnya terakhirnya karena keterbatasan komunikasi.
Menurut Ruslan, para atlet itu berada di Kota Palu untuk mengikuti kejuaraan terbuka dalam Festival Pesona Palu Nomoni 2018. Keikutsertaan dalam kejuaraan itu tanpa rekomendasi dari KONI sebagai organisasi induk cabang olahraga.
“Kejuaraan itu sifatnya kan open, terbuka. Jadi atlet dari mana saja bisa ikut baik dengan biaya sendiri atau ditanggung organisasi cabor, tapi kepesertaan itu dengan dasar undangan dari panitia pelaksana,” jelasnya.
Sekretaris KONI Balikpapan, Sulton Fahruddin menyampaikan, empat atlet panjang tebing dari Balikpapan berangkat menggunakan sendiri ke Kota Palu.
Koran Kaltim sempat mencoba menghubungi nomor telepon seluler Jamal Al Hadad, namun tak terhubung. (yul/hn)