Alasannya, karena istrinya yang kerap marah dan tempramental membuat Wagimin, suami merasa tak enak hati. Dia merasa dengan sikap sang istri akan menjadi beban keluarga. Menghindari anggapan itu di keluarga besarnya, dia memutuskan pergi dari rumah dan memilih tinggal di kolong jembatan.
“Waktu diamankan Dinsos Samarinda, keluarga datang menemui mereka. Pak Wagimin mengaku merasa tak enak tinggal bersama keluarga dengan kelakuan istrinya, makanya mereka lebih memilih tinggal di kolong jembatan,” ucap Kepala Dinsos Samarinda, Ridwan Tassa.
Bahkan, kata Ridwan dari pengakuan Wagimin saat ia keluar rumah pun tanpa berpamitan dengan keluarganya. Pihak keluarga sempat mencari keduanya mengingat usia mereka yang sudah tak muda. Apalagi keduanya tak memiliki anak-anak membuat keluarga merasa khawatir.
“Kalau dari pengakuan mereka sudah 3 tahun lebih tinggal di bawah kolong Jembatan Kehewanan,” terang Ridwan.
Isu pasutri makan daging kucing ini pun sampai ke telinga orang nomor wahid Kota Samarinda, Wali Kota Syaharie Jaang dan istrinya. Mengetahui kondisi keluarga ini, Syaharie Jaang memutuskan menampung pasutri tersebut. Rencananya mereka akan dipekerjakan sebagai penjaga kebun milik wali kota yang berada di Samarinda Seberang.
“Rencana awalnya mereka akan ditampung sementara oleh TKSK Samarinda Utara. Namun, saat melihat langsung Pasutri di Dinsos, istri Pak wali langsung menampung serta mempekerjakan mereka menjadi penjaga kebun. Saat ini mereka sudah menjaga kebun yang ada di Samarinda Seberang,” ungkap Ridwan mengakhiri. (sn318)