Menanggapi hal tersebut, Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia (BI) Kaltim sebagai salah satu anggota dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kaltim mengakui, jika komoditas ini memang memiliki karakteristik khusus.
“Ayam ini lucu ya, pasokan surplus, tapi menjadi perhatian karena pedagang menentukan harga. Kami menduga ada oligopoli pasar, jadi pedagang bisa menentukan sendiri harga,” ujar Kepala KPw BI Kaltim Muhamad Nur.
Padahal, pada saat bersamaan konsumsi ayam juga tinggi. Bahkan, juga menjadi penentu angka inflasi.
“Berdasarkan pantauan kami di lapangan, pedagang beralasan ambil momen menaikkan harga, karena bulan sebelumnya untungnya tipis,” tukasnya.
Untuk itu, lanjut dia saat ini pihaknya tengah mencoba melakukan komunikasi dengan asosiasi peternak, khususnya yang ada di Samarinda dan sekitarnya, untuk merumuskan jalan keluar persoalan tersebut.
“Kami akui, memang komunikasi dengan asosiasi masih kurang. Ke depan kami ingin berikan pemahaman, agar kenaikan jangan terlalu melonjak. Agar ada kewajaran harga. Dinas Peternakan sudah menjadwalkan komunikasi dengan asosiasi,” pungkasnya. (rs)