Ia membeberkan, insiden tertabraknya fender dan tiang Jembatan Mahakam, diduga karena faktor alam, karena saat pengolongan, turun hujan disertai angin kencang. “Faktor dari kecelakaan ini, dugaan sementara sehubungan dengan frekuensi hujan tinggi di daerah hulu Sungai Mahakam, mengakibatkan arus sungai yang cukup kuat dan kemarin itu hujan dan angin, membuat kapal ini sulit di olah gerak,” tandansya.
Insiden di bawah jemabatan Mahakam, kata Marsri membuat pengolongan hari itu terhenti, sekitar 30 kapal batu bara tidak bisa melanjutkan pelayaran.
“Saat kejadian, baru sekitar 10 kapal ponton berhasil melakukan pengolongan. Tadi pagi (kemarin) sekitar jam 6, saat kondisi sudah memungkinkan, dilakukan pengolongan terhadap kapal-kapal bermuatan,” paparnya.
Marsi kembali meminta agar perbaikan fender jembatan yang sudah lama mengalami kerusakan karena ditabrak ponton segera terealisasi. “Memang, fender itu dibuat sebagai pelindung jembatan, sebagai penjaga jembatan, tapi kalau ditabrak terus mengalami penurunan kekuatan. Awalnya di sana ada lima fender, sekarang sisa dua karena sering ditabrak,” katanya. “Saya sudah pernah bersurat ke gubernur untuk dilakukan pembuatan fender baru, ini saya mau menyurat yang kedua kali lagi,” katanya.
Selain itu, KSOP juga menyarankan Pelindo 4 mengganti kapal assist dengan kapal yang memiliki kekutan lebih besar dari yang sekarang. “Sudah saya tekankan ke Pelindo, ganti kapal assist. Kapal itu maju mundur tenaganya sama. Itu akan direkomendasikan di Jembatan Mahakam,” bebernya.
Sementara itu, kemarin jalur lalu lintas di atas Jembatan Mahakam dialihkan karena ada pengecekan jembatan. “Dari arah kota mau ke Samarinda Seberang disarankan menuju ke Jembatan Mahulu. Pengalihan dilakukan dari jam 17.00 Wita hinga pukul 19.00 Wita, setelah itu normal kembali,” kata Wakasat Lantas Polresta Samarinda, AKP Dika Yosep Anggara. (dor)