Awang Faroek: Kaltim Belum KLB Difteri
2 menit baca1.350 kali dibaca

BALIKPAPAN - Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menyatakan sampai saat ini Kaltim belum menyatakan status kejadian luar biasa (KLB) difteri. Menurut dia, dari 10 daerah baru Kota Samarinda dan Balikpapan yang ditemukan kasusnya.
Kasus terakhir, pasien difteri, suspect maupun positif, di RSUD AW Syahranie Samarinda mencapai 23 orang. 9 Orang diantaranya dinyatakan positif.
“Dua kota itu memang paling banyak suspect difteri, kalau Kaltim belum KLB. Nanti yang KLB dapat perhatian khusus termasuk dari Kementerian Kesehatan,” tukas Awang saat memaparkan dalam rakor yang diikuti Dinas Kesehatan se-Kaltim, Selasa (16/1) kemarin di Balikpapan.
Awang mengingatkan masyarakat agar menyelamatkan keluarga terutama anak-anak di bawah umur 5 tahun dari bahaya difteri. “Kamu punya anak? Cek, sudahkah diimunisasi? Kalau belum, segera diimunisasi untuk mencegah difteri. Insya Allah, selamat,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Survailance di Kemkes RI, dr Nancy mengungkapkan saat ini terjadi kekosongan stok vaksin difteri untuk memenuhi tingginya permintaan daerah yang sudah menetapkan KLB.
Sementara stock yang ada hanya untuk kebutuhan normal yakni untuk imunisasi. ”Kita dari Kemenkes lagi ada beading (mendata) lagi pengadaan vaksin. Insya Allah pekan depan vaksin akan kita distribusikan ke daerah-daerah,” ungkapnya, Selasa (16/1) kemarin.
”Jadi memang demand (permintaan) meningkat karena ada KLB sehingga di akhir tahun tidak bisa lakukan pengadaan tapi di awal tahun kita lakukan pengadaan,” jelasnya.
Di Kutai Barat (Kubar) dilaporkan saat ini belum terdeteksi warganya terjangkit difteri. Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Kubar, Barnabas pernah ada pada Desember 2017 satu pasien yang didiagnosa terjangkit difteri. Tapi, Pemkab Kubar melalui Dinas Kesehatan (Diskes) bergerak cepat mengantisipasi, dengan vaksinasi massal.
“Memang pernah ada satu pasien tapi hasil pemeriksaan laboratorium kultur, negatif. Pencegahan, semua anak balita hingga usia 15 tahun divaksin di beberapa kampung,” kata Sekretaris Diskes Kubar, Barnabas, Selasa (16/1) kepada Koran Kaltim, di Sendawar. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Barong Tongkok melaporkan nihil difteri di daerahnya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota (DKK) Samarinda, hingga Selasa, 16 Januari kemarin, telah melalukan outbreak response immunization (ORI) atau yang lebih dikenal Gerakan Imunisasi Cegah Difteri, kepada lebih dari 22 ribu orang.
Kepala Seksi Bidang Promosi Kesehatan DKK Samarinda Deasy Evriyanti mengatakan, pemberian imunisasi terhitung sejak Sabtu hingga Selasa kemarin, masih difokuskan kepada balita dan anak usia sekolah. “Jadi kami memang memberikan imunisasi secara selektif dan bertahap, fokus kepada bayi, balita sampai anak usia 7 tahun, hingga anak usia sekolah,” ujarnya. (din/imr/rs)










