“Saya seharusnya sudah panen lombok, kalau saja tidak terendam banjir,” kata dia.
Desa Sebakung merupakan desa yang sebagian warganya adalah petani. Berdasarkan keterangan yang dipaparkan Bakransyah, Kepala Desa Sebakung sebagian besar warganya hidup bertadi dan berladang. Di lingkungannya saat ini ada lahan seluas lebih seratus ha yang sudah ditanami, baik padi dan tanaman lainnya.
“Untuk tanaman lombok ada sekitar 5 ha yang terendam, tanam semangka sekitar 7 ha, jagung sekitar 20 hektar. Area persawahan yang sudah ditanami seluas 100 ha yang sudah pasti gagal panen,” kata dia.
“Perkiraan saya kerugian petani dari musibah banjir khusus di Desa Sebakung ini mencapai seratusan juta rupiah” tambahnya.
Banjir yang merendam kawasan tanam warga diakuinya terjadi setiap tahun, terlebih jika musim penghujan tiba. Parahnya lagi, Sungai Longkali sudah tak mampu menampung debit air hujan yang turun. Luapan sungai terbesar di KAbupaten Paser ini tak bisa dihindarkan. Bakransyah menuturkan tahun ini merupakan banjir terbesar dalam 5 tahun terakhir.
Ditempat terpisah Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Damit, M. Syatta mengutarakan banjir sangat meresahkan petani. Di wilayahnya, petani sangat mengeluhkan nasibnya karena tanaman tak lagi bisa berbuah karena terdampak banjir.
“Ketika banjir melanda desa kami ternyata merendam kebanyakan tanaman penduduk, diantaranya kebun pisang dan kebun sawit”.
Atas kejhadian tersebut Syatta selaku Ketua LPM Desa Damit mengharapkan perhatian pemerintah segera membantu masyarakat untuk meringankan beban warga petani. (dc1217)