“Resiko kredit yang cenderung terus membaik. Hal ini ditunjukkan dari rasio non performing loan (NPL) gross kredit terus menunjukkan perbaikan, menjadi sebesar 5,57 persen dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,22 persen,” ujarnya.
Sementara itu, kata Dwi kredit berdasarkan jenis penggunaan KMK dan kredit konsumsi tumbuh masing-masing 6,59 persen (yoy) dan 6,84 persen (yoy). Ia menyebut, hal itu menunjukkan adanya ekspansi kegiatan usaha, utamanya pada sektor ekonomi pemilikan peralatan rumah tangga lainnya, termasuk pinjaman multiguna dan pemilikan rumah tinggal, perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, pertanian, perburuhan dan kehutanan. Sementara kredit investasi tumbuh melambat sebesar negatif 6,47 persen yoy.
“Tapi kalau dilihat berdasarkan kontribusi, kredit konsumsi masih mendominasi sebesar Rp 25,95 triliun atau 36,75 persen dari total kredit,” ungkapnya. Ia membeber, keadaan kredit modal kerja yang tak jauh berbeda kondisinya yakni sebesar Rp 25,46 triliun atau berkontribusi 36,06 persen. Sedangkan kredit investasi berkontribusi 27,19 persen atau Rp 19,20 triliun.
“Kami menghimbau perbankan dapat meningkatkan penyaluran kredit secara prudent pada sektor produktif UMKM dan sektor-sektor ekonomi potensial di Kaltim. Seperti, sektor pariwisata dan pengolahan serta pertanian dalam arti luas, perikanan, peternakan,” tukasnya.
Sedangkan tambahnya, terkait dengan risiko kredit (NPL) gross yang masih tinggi di atas threshold 5 persen, perbankan agar terus melanjutkan konsolidasi internal masing-masing. Dalam rangka upaya perbaikan kredit bermasalah baik melalui restrukturisasi kredit maupun penyelesaian kredit (eksekusi agunan/lelang) sesuai ketentuan dan perudangan yang berlaku.(*/rs)
“Resiko kredit yang cenderung terus membaik. Hal ini ditunjukkan dari rasio non performing loan (NPL) gross kredit terus menunjukkan perbaikan, menjadi sebesar 5,57 persen dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,22 persen,” ujarnya.
Sementara itu, kata Dwi kredit berdasarkan jenis penggunaan KMK dan kredit konsumsi tumbuh masing-masing 6,59 persen (yoy) dan 6,84 persen (yoy). Ia menyebut, hal itu menunjukkan adanya ekspansi kegiatan usaha, utamanya pada sektor ekonomi pemilikan peralatan rumah tangga lainnya, termasuk pinjaman multiguna dan pemilikan rumah tinggal, perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, pertanian, perburuhan dan kehutanan. Sementara kredit investasi tumbuh melambat sebesar negatif 6,47 persen yoy.
“Tapi kalau dilihat berdasarkan kontribusi, kredit konsumsi masih mendominasi sebesar Rp 25,95 triliun atau 36,75 persen dari total kredit,” ungkapnya. Ia membeber, keadaan kredit modal kerja yang tak jauh berbeda kondisinya yakni sebesar Rp 25,46 triliun atau berkontribusi 36,06 persen. Sedangkan kredit investasi berkontribusi 27,19 persen atau Rp 19,20 triliun.
“Kami menghimbau perbankan dapat meningkatkan penyaluran kredit secara prudent pada sektor produktif UMKM dan sektor-sektor ekonomi potensial di Kaltim. Seperti, sektor pariwisata dan pengolahan serta pertanian dalam arti luas, perikanan, peternakan,” tukasnya.
Sedangkan tambahnya, terkait dengan risiko kredit (NPL) gross yang masih tinggi di atas threshold 5 persen, perbankan agar terus melanjutkan konsolidasi internal masing-masing. Dalam rangka upaya perbaikan kredit bermasalah baik melalui restrukturisasi kredit maupun penyelesaian kredit (eksekusi agunan/lelang) sesuai ketentuan dan perudangan yang berlaku.(*/rs)