Sekretaris Disdikbud Kutim, Akhmad Asari mengatakan, kondisi kualitas udara menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak polusi udara. Penanganan kabut asap membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar perlindungan terhadap warga sekolah dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Kami terus membangun koordinasi dengan Dinkes dan pemerintah kecamatan untuk memastikan langkah pencegahan berjalan di lapangan,” kata Asari.
Pembagian masker menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mengurangi risiko paparan asap. Terlebih, kondisi udara yang memburuk dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, termasuk meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan ISPA.
Disdikbud juga terus memantau perkembangan kondisi di setiap wilayah melalui koordinasi bersama instansi terkait. Hal itu dilakukan secara berkala, termasuk melalui pertemuan daring.
Data kesehatan dari puskesmas di masing-masing kecamatan turut menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan. Informasi tersebut membantu pemerintah melihat perkembangan kondisi kesehatan masyarakat sekaligus menyesuaikan kebijakan dengan situasi di lapangan.
“Kami menggunakan informasi dari kecamatan dan puskesmas sebagai bahan evaluasi. Jadi kebijakan diterapkan tetap mempertimbangkan kondisi kesehatan masyarakat di masing-masing wilayah,” ujarnya.
Pihaknya mengapresiasi atas kolaborasi bersama antara Dinkes dan pemerintah kecamatan yang turut bergerak dalam penanganan dampak kabut asap. Menurutnya, sinergi lintas sektor sangat diperlukan selama kualitas udara belum kembali normal.
“Fokus utama memastikan anak-anak tetap terlindungi. Semoga segera pulih dan aktivitas pembelajaran tatap muka bisa kembali berlangsung,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin