Asisten II Setkab Kukar Muhamad Iryanto mengatakan, infrastruktur tersebut memiliki posisi strategis karena kawasan Sukakarya berdekatan dengan Dusun Berambai dan memiliki jalur yang dapat mendukung akses masyarakat menuju kawasan bandara.
Karena itu, penanganan jembatan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Pemerintah juga melihat peluang pengembangan akses yang dapat memperpendek pergerakan masyarakat ke depan.
“Menurut informasi dari pihak desa maupun warga dusun, jembatan ini bersebelahan dengan Dusun Berambai dan berdekatan untuk menuju ke bandara,” kata Iryanto dikonfirmasi korankaltim.com, Sabtu (10/10/2026).
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam penataan konektivitas kawasan. Ketika akses semakin baik, pergerakan masyarakat di Kecamatan Tenggarong Seberang juga diharapkan menjadi lebih lancar.
“Ke depan nanti bisa diperbaiki dan bisa diperdekat ke bandara untuk akses masyarakat di Kecamatan Tenggarong Seberang,” ujarnya.
Menurut Iryanto, konektivitas memiliki kaitan erat dengan pergerakan ekonomi masyarakat. Terlebih, wilayah Sukakarya merupakan salah satu kawasan yang memiliki aktivitas pertanian cukup produktif dengan hamparan lahan lebih dari 100 hektare.
Untuk menjawab kebutuhan jangka pendek, Pemkab Kukar menyiapkan perbaikan jembatan alternatif di RT 4. Sementara jembatan utama yang mengalami kerusakan dipersiapkan untuk pembangunan permanen pada 2027.
Tahap perencanaan dilakukan pada 2026 dengan melibatkan Dinas Perkim dan pendampingan teknis dari Dinas PU.
Pemerintah juga membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat dan dunia usaha melalui Forum TJSP untuk mempercepat penanganan akses alternatif.
Iryanto memperkirakan kebutuhan pembangunan jembatan permanen berada di kisaran Rp6 miliar hingga Rp9 miliar. Angka tersebut masih berupa perkiraan awal karena kebutuhan akhir harus menyesuaikan hasil perencanaan teknis, kondisi tanah dan risiko konstruksi.
“Makanya nanti jembatannya permanen,” katanya.
Ia menegaskan, penanganan tersebut telah mendapat respons dari pimpinan daerah. Pemkab Kukar bersama DPRD akan mengawal tahapan perencanaan dan penganggaran agar pembangunan dapat direalisasikan sesuai target.
“Ini berkaitan dengan visi-misi Bupati karena ini menjadi lokasi sentra pertanian, konektivitas yang harus kita pertimbangkan dan harus segera dilakukan,” pungkas Iryanto. (adv )
Asisten II Setkab Kukar Muhamad Iryanto mengatakan, infrastruktur tersebut memiliki posisi strategis karena kawasan Sukakarya berdekatan dengan Dusun Berambai dan memiliki jalur yang dapat mendukung akses masyarakat menuju kawasan bandara.
Karena itu, penanganan jembatan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Pemerintah juga melihat peluang pengembangan akses yang dapat memperpendek pergerakan masyarakat ke depan.
“Menurut informasi dari pihak desa maupun warga dusun, jembatan ini bersebelahan dengan Dusun Berambai dan berdekatan untuk menuju ke bandara,” kata Iryanto dikonfirmasi korankaltim.com, Sabtu (10/10/2026).
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam penataan konektivitas kawasan. Ketika akses semakin baik, pergerakan masyarakat di Kecamatan Tenggarong Seberang juga diharapkan menjadi lebih lancar.
“Ke depan nanti bisa diperbaiki dan bisa diperdekat ke bandara untuk akses masyarakat di Kecamatan Tenggarong Seberang,” ujarnya.
Menurut Iryanto, konektivitas memiliki kaitan erat dengan pergerakan ekonomi masyarakat. Terlebih, wilayah Sukakarya merupakan salah satu kawasan yang memiliki aktivitas pertanian cukup produktif dengan hamparan lahan lebih dari 100 hektare.
Untuk menjawab kebutuhan jangka pendek, Pemkab Kukar menyiapkan perbaikan jembatan alternatif di RT 4. Sementara jembatan utama yang mengalami kerusakan dipersiapkan untuk pembangunan permanen pada 2027.
Tahap perencanaan dilakukan pada 2026 dengan melibatkan Dinas Perkim dan pendampingan teknis dari Dinas PU.
Pemerintah juga membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat dan dunia usaha melalui Forum TJSP untuk mempercepat penanganan akses alternatif.
Iryanto memperkirakan kebutuhan pembangunan jembatan permanen berada di kisaran Rp6 miliar hingga Rp9 miliar. Angka tersebut masih berupa perkiraan awal karena kebutuhan akhir harus menyesuaikan hasil perencanaan teknis, kondisi tanah dan risiko konstruksi.
“Makanya nanti jembatannya permanen,” katanya.
Ia menegaskan, penanganan tersebut telah mendapat respons dari pimpinan daerah. Pemkab Kukar bersama DPRD akan mengawal tahapan perencanaan dan penganggaran agar pembangunan dapat direalisasikan sesuai target.
“Ini berkaitan dengan visi-misi Bupati karena ini menjadi lokasi sentra pertanian, konektivitas yang harus kita pertimbangkan dan harus segera dilakukan,” pungkas Iryanto. (adv )