Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, H Slamet Hadiraharjo, mengatakan, TPS 3R Kecamatan Loa Kulu berhasil menarik perhatian karena mampu mengelola sampah secara mandiri dengan memberdayakan sekitar 20 warga setempat.
"Lewat tangan kreatif masyarakat ini, sampah organik dan plastik disulap jadi produk bernilai ekonomis tinggi, ada kompos, budidaya maggot, sampai paving block yang memanfaatkan residu abu pembakaran," kata Slamet, Kamis (8/10/2026).
Ia menyebut, produk-produk ini sudah memiliki pasar tetap di wilayah Kota Samarinda dan telah menghasilkan keumtungan bersih mencapai sekitar Rp8 hingga Rp9 juta.
Dengan kapasitas operasional mencapai lima ton sampah per hari, TPS 3R Loa Kulu berhasil memangkas volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Residu sampah yang sama sekali tidak bisa didaur ulang akan dibakar menggunakan generator khusus. Pembakaran baru dilakukan setelah sampah terkumpul minimal lima ton guna efisiensi waktu dan biaya pemantik generator.
"Jadi prosesnya ini hanya menyisakan abu pembakaran sebanyak setengah ember, nanti dikumpulkan untuk dicetak jadi paving block. Saat ini, paving block dari abu residu itu sudah digunakan secara mandiri untuk membangun pagar di area TPS 3R," ungkapnya.
Keberhasilan pengelolaan ini membawa TPS 3R Loa Kulu menjadi percontohan resmi, baik di tingkat daerah maupun nasional. "Untuk daerah lain yang mau melakukan studi banding diarahkan langsung ke Loa Kulu, nanti tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke Pulau Jawa," ujarnya.
Program ini, kata dia, telah mendapat perhatiam serius dari pemerintah pusat melalui kunjungan lapangan langsung dari pihak Kemendagri dan Bappenas. Awal kesuksesan sistem yang berjalan lancar ini tidak lepas kerja sama seluruh anggota.
"Kami harap Program TPS 3R ini menjadi solusi jangka panjang yang berkelanjutan dalam mengatasi permasalahan sampah perkotaan," tutupnya. (Adv)