Pulau Gusung bisa diakses dengan menggunakan perahu, sekitar 15-20 menit dari pelabuhan Tanjung Limau, Bontang Utara.
Ketua RT 03 Pulau Gusung Jumadi berkata, panjang pulau awalnya 1.000 meter, sementara lebarnya sekitar 150 meter. Karena hantaman ombak yang terus menerus membuat abrasi hebat di sekeliling pulau. Ia memperkirakan luasan pulau hanya tersisa 40 persen. “Atau sekitar 600 meter persegi,” kata Jumadi kepada Koran Kaltim, Minggu (25/7).
Sebagai solusi, Pemkot Bontang pernah memasang turap penghalang ombak yang terbuat dari kayu ulin. Akan tetapi, turap itu hanya bertahan tiga bulan. Dikarenakan karat di paku, dan hantaman ombak yang kuat, sehingga mengakibatkan kayu itu hanyut dibawa arus laut.
Dikatakan Jumadi, pemasangan turap itu sudah dilakukan sebanyak dua kali sejak 2010 lalu. Kendati demikian, menurutnya hal itu bukan lah solusi yang tepat. Lantaran, kayu ulin tak cukup kuat untuk bertahan lama dihantam gelombang laut.
“Kalau pakai ulin itu sebentar saja habis. Bagusnya itu pakai batu karang atau batu gunung, seperti di Pulau Beras Basah,” ucapnya.
Jumadi memprediksi, lima tahun ke depan Pulau Gusung akan mengalami pengikisan yang lebih parah apabila tidak diberikan solusi secepatnya. “Berkaca kondisi saat ini, ketika air laut pasang, Pulau Gusung dan rumah warga sudah pasti tergenang,” ujarnya.
Pulau Gusung masuk wilayah RT 03, Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara. Dengan panjang melintang 1.000 meter dan lebar 150 meter. Ada sekitar 100 kepala keluarga dengan total 336 jiwa yang bermukim di pulau ini.
Mereka kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan. Sekitar 80 persen merupakan warga asal Mamuju, Sulawesi Selatan.
Pulau Gusung awalnya hanya tumpukan pasir laut bekas galian proyek Pupuk Kaltim. Pada 1977, perusahaan itu melakukan pendalaman laut untuk akses kapal. Sehingga pasir bekas galiannya ditumpuk sampai jadi pulau.
Para nelayan yang berasal dari Sulawesi Selatan pun memanfaatkan tumpukan pasir tadi. Dengan membuat pondok-pondok kecil. Hingga akhirnya pulau tersebut menjadi tempat persinggahan para nelayan yang berada di Bontang. ()
Penulis : */Iwan
Editor : Bambang Irawan