Tak cuma sulit. Warga di sana bahkan mengalami keterbatasan dalam mendapatkan air bersih.
Warga harus menempuh perjalanan cukup menantang hanya untuk mendapatkan air bersih.
Asriani, salah satu warga menuturkan, ia harus menggunakan jeriken untuk kebutuhan air bersih dirumah dengan menempuh perjalanan selama 45 menit lamanya.
Ini harus dilakukan berulang kali agar kebutuhan air bersih di rumahnya tetap terpenuhi. “Kalau mau lebaran misalnya, itu lebih sering lagi,” kata Asriani kepada Koran Kaltim, Jumat (12/3/2021) kemarin.
Air bersih yang diperoleh warga RT 15 disediakan oleh perusahaan tambang yang lokasinya berada di perbatasan Bontang-Kukar.
Namun untuk ke sana, keselamatan warga menjadi taruhannya karena lalu lalang truk. “Ambil air kayak menantang nyawa. Tapi kayak apa, daripada tidak ada air,” katanya.
Sebenarnya di RT 15 Lok Tunggul beberapa warga telah memiliki sumber air sendiri dengan mengandalkan pompa air. Namun kualitas airnya jauh dari kata layak karena warnanya keruh dan pekat, bahkan lengket jika digunakan.
Namun karena kurangnya pilihan, air tersebut tetap digunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci. “Kalau untuk cuci dan mandi, kami berharap air di perusahaan itu. Bukan main setengah mati ambilnya,” terangnya.
Persoalan ini, kata dia, sudah lama berlangsung. Warga pun berharap agar uluran tangan dari pemerintah bisa sampai ke mereka. Namun ika pemerintah belum mampu memenuhi, warga berharap perusahaan di PLTU Teluk Kadere bisa membantu.
“Sekadar memasangkan pipa air dari perusahaan tambang ke RT 15 agar kami tak perlu jauh untuk mencari air bersih. Kalau bisa perusahaan bantu juga, pasangkan pipa air bersih dari luar ke sini,” tandasnya.[]
Penulis : */Romi
Editor : Rusdi