Bahkan, Bontang seharusnya bisa menerima 4 dari 3 penghargaan yang didapatnya sekaligus. Katagori keempat ini, yakni pengelolaan sampah terbaik, harus lepas lantaran di TPA tersebut ada hewan ternak, yakni sapi. Sebab, keberadaan sapi di TPA dianggap dapat membuat lingkungan menjadi tidak sehat dan tidak terkontrol.
“Sejatinya Bontang bisa menerima 4 penghargaan sekaligus, sayangnya karena keberadaan sapi di TPA saja. Satu penghargaan yakni penghargaan pengelolaan sampah terbaik lepas. Sebab, saat tim adipura datang melihat ada sapi,” ungkap Neni.
Menurut Neni, Piala Adipura akan menjadi motivasi untuk dapat lebih menjaga lingkungan kedepannya, salah satunya dengan program kali dan laut bersih yang akan diterapkan nantinya. Bahkan untuk lebih menjaga lingkungan, pemerintah juga telah mengeluarkan perwali untuk mengurangi penggunaan sedotan dan sampah plastik.
Neni juga sudah mengeluarkan perwali larangan penggunaan botol plastik bagi PNS, dan menggantinya dengan e-bottle. “Sekarang harus pakai e-bottle tidak lagi botol plastik atau gelas plastik. Seperti sekarang ini, kami gunakan untuk wadah minum yakni gelas kertas, yang ramah lingkungan. Karena plastik itu tidak pernah terurai,” ujar Neni.
Ia mengaku merasa malu lantaran faktanya Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia. “Malu rasanya, ke depan kita harus bisa merubahnya dan tidak lagi jadi peringkat kedua, dimulai dari Bontang, seluruh restoran, perusahaan diimbau jangan lagi pakai sedotan atau pipet plastik,” tandasnya. (cil)