Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Sekolah SD Negeri 005 Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, Rabu, 24 Oktober 2018, mengadu ke pihak kepolisian Polres Bontang, terkait adanya cuitan yang dilakukan salah satu orangtua muridnya, di media social facebook (FB), terkait pelaksanaan imunisasi MR (Measles and Rubella) yang dilakukan tim medis di SDN 005 tersebut.
Setelah kedua belah pihak diberikan waktu mengeluarkan uneg-uneg dan pendapatnya, akhirnya baik pihak orangtua, Dinas Kesehatan maupun kepala SDN 005 Loktuan, bersepakat hal tersebut diakhiri dan saling meminta maaf dan tidak lagi mengulang dengan memasang status di facebook sehingga viral kembali. Sementara postingan Yulinya Hamid pun sudah dihapus.
Perwakilan Dinas Kesehatan Kaltim yang hadir dalam pertemuan tersebut, M Satta menjelaskan jika cakupan pelaksanaan vaksin, khusus wilayah Bontang paling terendah alias paling belakang. “Kita ini paling buncit di Kaltim, dibanding Balikpapan, Tenggarong, Kutim, Berau dan lainnya. Bontang baru 56 persen capaiannya, sedangkan daerah lain sudah di atas 70 persen,” jelas Satta.
Ia juga mengatakan, vaksin MR hingga sekarang belum ada ditemukan yang halal. “Biofarma kita belum bisa memproduksinya sampai sekarang. Dan kalau capain vaksin MR ini rendah, maka Walikota nanti yang akan ditegur Gubernur dan Gubernur yang akan ditegur Presiden. Makanya kami lakukan merger kerjasama dengan pihak MUI, Depag, sekolah agar pelaksanaan vaksin ini mencapai target,” katanya.
Sementara arti kata sweeping yang dipermasalahkan para orangtua terkait surat undangan sekolah, dijelaskan Adi Permana Kasi Surveilans Imunisasi Dinkes Bontang, merupakan istilah dari bidang kesehatan, yang artinya mencari anak-anak yang belum di vaksin, agar lebih dalam pelaksanaan vaksin berikutnya.
Adi juga mengatakan, sebenarnya dengan viralnya postingan Yulinya Hamid, mereka merasa terganggu, pasalnya imunisasi tidak terjadi pada hari ini saja, melainkan akan terus dilakukan setiap tahunnya. Dan parahnya trendnya makin lama makin menurun. “Bontang paling rendah se Indonesia, dan banyak hal berpengaruh dengan kondisi ini,” terang Adi.
Kasi Penyelenggaran Haji dan Umrah, Depag Bontang, Ali Mustafa, juga menjelaskan, jika vaksin MR sudah keluar fatwa MUI bahwa dibolehkan, karena untuk kondisi darurat dan demi keselamatan jiwa manusia.
Terkait adanya orangtua yang takut anaknya kenapa-napa pasca imunisasi, Ali Mustapa mengatakan, jika umur itu bukan urusan manusia, melainkan Allah dan anak itu adalah titipan Allah. “Di Arab Saudi saja seluruhnya sudah divaksin, bahkan jika kita pergi haji atau umroh, pasti harus divaksin terlebih dahulu. Bahkan pada zaman Rasulullah dahulu, saat Rasulullah ingin umroh dilanda penyakit aneh, dan Rasulullah mendapat wahyu, bahwa obatnya adalah minum susu onta yang dicampur dengan kencing onta. Akhirnya semua jamaah kala itu langsung sembuh. Nah sekarang kencing itukan haram? Namun jika itu untuk kesehatan dan hanya itu obatnya maka diperbolehkan. Sama juga dengan darah. Kita makan darahpun haram, namun jika untuk kesehatan maka transfusi darah menjadi halal. Nah sama halnya dengan vaksin ini, yang jelas yang masuk ke dalam tubuh kita sudah tidak ada kandungan babinya, karena sudah melalui berbagai proses,” jelasnya.
Salah satu orangtua murid, Yuli Hamid mengatakan, jika proses sosialisasi yang dilakukan pihak sekolah, diselesaikan terlebih dahulu baru dilakukan pelaksanaan vaksin, mungkin mereka tidak akan heboh. Hal ini juga diamini Welly dan Murni (orangtua murid SDN 005).
Bahkan dikatakan Murni, ia kuatir kondisi anaknya, karena sudah disuntik tanpa sepengetahuan dia. “Anak saya baru saja habis opname 4 bulan yang lalu dari sakit radang paru-paru. Nah dia sudah disuntik, padahal saya masih di bawah dengar sosialisasi. Itu saja kenapa kemarin saya juga lepas control, karena saya takut,” kata Murni. (cil)