“Ada sekitar 37 orang yang terdiri dari 31 dewasa dan enam orang anak-anak,” kata Ewil, panggilan akrabnya.
Ia menambahkan, pengungsi yang datang tersebut umumnya ada keluarga di Sangatta. Karena perasaan takut mereka lebih memilih tinggal di tempat keluarga.
“Korban Gempa itu ada yang mengungsi di Sangatta Selatan dan ada yang mengungsi di Sangatta Utara,” ujarnya.
Menurut Ewil, para korban tersebut sudah merasa trauma akan kejadian gempa bumi yang melanda kampung halaman merrka, sehingga para korban lebih memilih tinggal menetap di Kutim.
“Mereka trauma dan tidak mau kembali ke Palu, jadi mereka ingin tinggal menetap di Kutim,” tutur Ewil.
Rencananya, lanjut Ewil, korban yang mrngungsi ini tetap akan diberikan bantuan, seperti kebutuhan dan tempat tinggal mereka. Sementara bagi mereka yang tidak memiliki KTP maka sementara waktu bisa tinggal di tempat kerabatnya.
“Kita akan konfirmasikan ke Dinsos dulu, apa bantuan yang akan diberikan kepada mereka, karena mereka saat ini masih trauma jadi gak mau kembali, soal tidak ada KTP kita akan minta identitas nanti akan kami cocokkan ke disdukcapil,” ujarnya.
Konfirmasi tersebut, dimaksudkan Wihelmus sebagai pengecekan apakah mereka benar-benar korban dari gempa Palu dan Donggala atau bujan. Jangan sampai ada yang mengaku saja untuk mendapatkan bantuan.
“Selain memberikan bantuan kepada 37 korban palu tersebut, nantinya PMI juga akan melakukan pendampingan untuk menghilangkan trauma, dari kejadian yang baru saja mereka lewati,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Kutim Ismunandar mengatakan, pihaknya mempersilahkan bagi korban Gempa yang ingin mengungsi ke Kutim.
“Kami persilahkan mereka untuk datang, jika memang ada keluarga dan kerabat yang dikenal di Kutim, kami tetap akan berikan bantuan kepada mereka,” tandasnya. (yul)