Berbekal pengetahuan dari pelatihan tersebut, Omimh mendapat banyak teman yang akhirnya bergabung menjadi pengrajin dengan keahliannya masing-masing.
“Sebenarnya sekira 10 tahun lalu banyak sekali yang diberi pelatihan. Namun hanya beberapa orang yang masih bertahan. Semuanya punya bidang keahlian masing-masing,” ungkapnya, saat diwawancarai
Dilanjutkan Omih, kecintaannya terhadap daur ulang semata karena ingin mengurangi volume sampah di Kutim. Selain itu, dapat mempererat tali silaturahmi hingga menghasilkan pendapatan untuk menambah perekonomian keluarga.
“Saya masih senang bertahan pada kegiatan seperti ini. Biasanya kami memproduksi barang di rumah masing-masing. Ada yang mengolah sampah, seperti botol plastik, plastik bungkus makanan, hingga koran bekas, kemudian diubah menjadi kerajinan mulai dari vas bunga, tempat sampah, dompet, tas, piring, jam, kursi, meja hingga berbagai produk kerajinan lainnya,” paparnya.
Ia pun berharap kegiatan seperti ini mampu mengembangkan potensi yang ada. Selain itu mampu memanfaatkan waktu lebih berguna. “Lebih baik saya mendaur, kegiatannya jelas positif. Lagi pula banyak manfaatnya. Daripada saya bermain di tempat tetangga. Alhamdulillah, jika dikalkulasi omzet saya selama ini sudah mencapai ratusan juta,” tandasnya. (yul1116)