Dari hasil monitoring yang dilakukan, kenaikan harga yang signifikan hanya terjadi pada daging ayam potong. Dimana harga ayam potong perekorya di Pasar Rawa Indah kini mencapai Rp50 ribu sampai Rp70 ribu.
Kenaikan ini disebabkan persediaan stok daging ayam potong di pasar yang sehari-harinya biasa mencapai 100-200 ekor per pedagangnya, namun akhir-akhir ini tiap pedagang hanya ada stok 50-100 ekor. Sehingga ketersediaan daging ayam potong di Bontang terbatas.
Sementara untuk harga telur ayam ternyata juga mengalami kenaikan. Biasa satu piring ayam telur yang kecil hanya Rp38.000, kini sudah mencapai Rp50.000 yang kecil.
Plt Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kota Bontang Karlina, berharap stok bahan pokok tetap aman dan mencukupi selama bulan ramadan. “Kenaikan yang terjadi kami harap hanya menjadi cerita klasik dengan tidak memanfaatkan momen jelang ramadan, untuk mengambil keuntungan yang lebih tinggi dan hanya sewajarnya, dimana hal ini biasanya dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu,” katanya.
Menurut Karlina, monitoring harga dan stok bahan pokok serta bahan penting lainnya sangat diperlukan untuk memantau stabilitas harga dan ketersediaan stok di Kota Bontang. Hal tresebut bertujuan agar inflasi dapat terkendali dan tidak ada gejolak yang terjadi. “Monitoring juga menekan kenaikan yang tinggi, khususnya di bulan ramadan dan jelang hari raya Idul Fitri 1439 H,” ujar Karlina.
Dilanjutkannya, Bontang mempunyai tantangan yang cukup besar dalam mengendalikan inflasi, hal ini disebabkan Bontang bukan merupakan daerah penghasil. “Sebagian besar komoditi pangan berasal dari luar daerah, karena itu perlu usaha ekstra untuk pengendalian inflasi di kota Bontang,” ujarnya.
Karlina berharap kestabilan harga dan stok harus tetap terjaga. Sehingga kebutuhan masyarakat terjamin sampai dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1439 H.
“Inflasi atau gejolak kenaikan harga menjadi factor penting dalam perekonomian, karena inflasi yang tak terkendali dapat membuat kondisi dan stabilitas ekonomi terganggu,” ucapnya. (cil)