Hal tersebut tentu saja memerlukan dukungan dan bantuan dari segala pihak, baik dari masyarakat maupun instansi pemerintah dan swasta. Menurut Kamil, musim kemarau rentan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Terkait penangananya kebakaran hutan dan lahan sama dengan banjir tapi mungkin ada keterlibatan perusahan, dan instansi, kita perlu waspada karena bukan hanya Kutim yang terancam tapi juga negara kita,” ujarnya.
Kemudian Kamil bercerita, sekitar satu bulan yang lalu dirinya bersama Kapolres Kutim dan Bupati Kutim dipanggil ke Istana Kepresidenan untuk menghadap Presiden Joko Widodo. Waktu itu mereka mendapat tantangan langsung dari RI 1 agar mampu menjaga hutan dari bencana kebakaran.
“Presiden bilang pada saya, jika kedepannya terjadi lagi kebakaran hutan di wilayah kita, maka dandim dan kapolres akan dipecat. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus kami hadapi,” tandasnya.
Untuk itu dirinya menegaskan seluruh aparat TNI dan Polri siap membantu bencana apabila ada kebakaran hutan dan lahan serta bencana lainnya. “Biasanya memang setelah musim hujan yang menyebabkan banjir, maka kemarau akan tiba. Maka kami melakukan persiapan sejak saat ini untuk memantau titik api yang ada di hutan Kutim. Kami siap siaga, walaupun tidak mengaharapkan hal tersebut sampai terjadi,” jelasnya.
Terpisah, Bupati Kutim Ismunandar menghimbau agar seluruh masyarakat Kutim menyiapkan diri jelang musim kemarau. Ia meminta beberapa instansi terkait untuk siap siaga. “Kita harus siap siaga, pasalnya kondisi hutan Kutim sangat berpotensi terbakar,” jelasnya saat coffe morning, Senin (30/4), kemarin.
Pemadaman api harus diawasi oleh dandim dan polres, bahkan pihak perusahaan harus dilibatkan juga pihak lainnya. Pasalnya mereka yang mampu membantu menumpahkan air dari atas. “Nantinya kebakaran hutan ini, akan melibatkan banyak pihak termasuk perusahaan. Kita semua harus waspada. Karena yang tercemar bukan hanya wilayah kabupaten saja, namun dapat berdampak sangat besar,” jelasnya.
Beberapa faktor dapat menjadi pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan, tidak hanya panas kemarau yang dapat menjadi penyebab, melainkan juga ulah manusia dapat berakibat fatal. “Tidak hanya faktor alam, tapi minimnya kesadaran masyarakat pun memengaruhi. Nanti akan dilakukan sosialisasi pada masyarakat untuk tidak membakar hutan sembarangan. Jadi jika memang akan membuka lahan dengan pembakaran, harus dijaga dan dipastikan aman,” sebut Ismunandar.
Salah satu upaya yang akan dilakukan guna mencegah terjadinya bencana dengan mensosialisasikan kepada masyarakat, untuk tidak membakar hutan dengan sengaja. Untuk itu Ismunandar mengajak masyarakat untuk tidak membakar hutan dan lahan.
“Terjadinya kebakaran hutan tidak hanya adanya oknum tertentu, melainkan ada dua faktor, yang pertama masyarakat yang dengan sengaja membakar lahannya sendiri untuk membuka bercocok tanam, lalu yang kedua perusahan melakukan pembakaran hutan dengan menyuruh masyarakat,” jelasnya. (yul1116)