“Fasilitator sendiri bertugas untuk menjembatani antara pihak sekolah, inspirator dan dokumentator,” kata Koordinator KI Kukar 2017, Diyah Widya Utami.
Pada 15 September hingga 15 Oktober, akan kembali dibuka rekrutmen inspirator dan dokumentator. Inspirator bertugas untuk bercerita dan menginspirasi siswa-siswi di sekolah dan dokumentator bertugas mendokumentasikan rangkaian acara.
Rekrutmen ini dilakukan dalam rangka mensukseskan Kelas Inspirasi ketiga yang rencananya akan digelar 13 Nopember nanti.
“Untuk informasi pendaftaran dan acara bisa dilihat di Facebook Kelas Inspirasi Kukar, Instagram @KI_Kukar, maupun lewat contact person Aditya 085250502619 dan Juwita 082157441919,” kata Diyah.
KI Kukar adalah cabang dari Gerakan Indonesia Mengajar yang diinisiasi oleh Anies Baswedan. Di Kaltim, KI sudah terbentuk di beberapa kabupaten/kota, di antaranya Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Paser, Bontang, dan Kutai Timur.
KI menyasar siswa kelas 1 hingga 6 SD. Materi yang diajarkan kepada siswa sekolah bukanlah materi pelajaran yang terdapat dalam kurikulum sekolah, melainkan pengenalan profesi serta pemberian motivasi dari relawan pengajar.
Sekolah yang dipilih dan didatangi untuk setiap kegiatan KI Kukar tidak sembarangan, sekolah difilter dan disurvei dan dilihat situasinya. Tim dari KI hanya memilih sekolah yang terpinggirkan.
“Kami memilih berdasarkan beberapa indikator, misalnya bagai-mana kondisi sekolah, jumlah siswa, kondisi orang tua siswa, dan yang terakhir bagaiamana kelanjutan pendidikan dari setiap siswa yang ada,” ungkap Diyah.
Menurut Diyah, banyak orang tua siswa sekolah daerah pinggir yang tidak mementingkan pendidikan dan memiliki kecenderungan untuk bekerja saja. Selain itu, motivasi siswa untuk melanjutkan sekolah pun dirasa cukup rendah.
Pada kegiatan tahun lalu, KI Kukar mampu mengumpulkan 100 inspirator yang kemudian dibagi lagi ke 10 sekolah. Di sekolah, inspirator memberikan motivasi dan membagikan pengalaman yang mereka dapatkan pada bidang yang didalami oleh inspirator tersebut.
“Misalkan mereka bekerja sebagai dokter, ya mereka membawa stetoskop dan menggunakan pakaian praktek sehari-hari pada saat bercerita pada anak-anak mengenai profesinya. Harapannya anak-anak bisa dapat gambaran akan apa yang ingin dicapai dan diraihnya,” ujar Widya.
Kelas Inspirasi Kukar menamakan kegiatannya dengan Hari Inspirasi namun kegiatan ini bukan menjadi puncak dari Kelas Inspirasi. Diharapkan inspirator dapat kembali ke sekolah yang telah didatangi dan kemudian memberikan bantuan yang dirasa diperlukan oleh sekolah tersebut, namun bantuan yang diberikan bersifat sukarela. (mfd/*)
“Fasilitator sendiri bertugas untuk menjembatani antara pihak sekolah, inspirator dan dokumentator,” kata Koordinator KI Kukar 2017, Diyah Widya Utami.
Pada 15 September hingga 15 Oktober, akan kembali dibuka rekrutmen inspirator dan dokumentator. Inspirator bertugas untuk bercerita dan menginspirasi siswa-siswi di sekolah dan dokumentator bertugas mendokumentasikan rangkaian acara.
Rekrutmen ini dilakukan dalam rangka mensukseskan Kelas Inspirasi ketiga yang rencananya akan digelar 13 Nopember nanti.
“Untuk informasi pendaftaran dan acara bisa dilihat di Facebook Kelas Inspirasi Kukar, Instagram @KI_Kukar, maupun lewat contact person Aditya 085250502619 dan Juwita 082157441919,” kata Diyah.
KI Kukar adalah cabang dari Gerakan Indonesia Mengajar yang diinisiasi oleh Anies Baswedan. Di Kaltim, KI sudah terbentuk di beberapa kabupaten/kota, di antaranya Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Paser, Bontang, dan Kutai Timur.
KI menyasar siswa kelas 1 hingga 6 SD. Materi yang diajarkan kepada siswa sekolah bukanlah materi pelajaran yang terdapat dalam kurikulum sekolah, melainkan pengenalan profesi serta pemberian motivasi dari relawan pengajar.
Sekolah yang dipilih dan didatangi untuk setiap kegiatan KI Kukar tidak sembarangan, sekolah difilter dan disurvei dan dilihat situasinya. Tim dari KI hanya memilih sekolah yang terpinggirkan.
“Kami memilih berdasarkan beberapa indikator, misalnya bagai-mana kondisi sekolah, jumlah siswa, kondisi orang tua siswa, dan yang terakhir bagaiamana kelanjutan pendidikan dari setiap siswa yang ada,” ungkap Diyah.
Menurut Diyah, banyak orang tua siswa sekolah daerah pinggir yang tidak mementingkan pendidikan dan memiliki kecenderungan untuk bekerja saja. Selain itu, motivasi siswa untuk melanjutkan sekolah pun dirasa cukup rendah.
Pada kegiatan tahun lalu, KI Kukar mampu mengumpulkan 100 inspirator yang kemudian dibagi lagi ke 10 sekolah. Di sekolah, inspirator memberikan motivasi dan membagikan pengalaman yang mereka dapatkan pada bidang yang didalami oleh inspirator tersebut.
“Misalkan mereka bekerja sebagai dokter, ya mereka membawa stetoskop dan menggunakan pakaian praktek sehari-hari pada saat bercerita pada anak-anak mengenai profesinya. Harapannya anak-anak bisa dapat gambaran akan apa yang ingin dicapai dan diraihnya,” ujar Widya.
Kelas Inspirasi Kukar menamakan kegiatannya dengan Hari Inspirasi namun kegiatan ini bukan menjadi puncak dari Kelas Inspirasi. Diharapkan inspirator dapat kembali ke sekolah yang telah didatangi dan kemudian memberikan bantuan yang dirasa diperlukan oleh sekolah tersebut, namun bantuan yang diberikan bersifat sukarela. (mfd/*)