Kamis, 27/08/2026

Produksi Padi Baru 40 Persen, DTPHP Berau Salurkan Pompa Air Hadapi Kemarau

Kamis, 27/08/2026

Sektor Pertanian padi dan jagung di Kabupaten Berau. (Foto: Indri/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Produksi Padi Baru 40 Persen, DTPHP Berau Salurkan Pompa Air Hadapi Kemarau

Kamis, 27/08/2026

logo

Sektor Pertanian padi dan jagung di Kabupaten Berau. (Foto: Indri/Korankaltim.com)

KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB - Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang akibat fenomena El Nino mulai menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian Kabupaten Berau. 

Selain menekan hasil panen, kekeringan juga memaksa petani mengubah jadwal tanam sejumlah komoditas strategis.

Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau kini mewaspadai dampak lanjutan kondisi tersebut terhadap produksi pertanian hingga akhir 2026. Langkah antisipasi dilakukan dengan memperkuat dukungan pengairan, termasuk menyalurkan pompa air ke sejumlah lahan yang terdampak kekeringan.

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengatakan target produksi padi tahun ini dipatok lebih dari 8.800 ton. Namun, hingga Agustus, realisasi produksi baru mencapai sekitar 40 persen. Kekeringan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi capaian tersebut.

“Panas ekstrem membuat produksi di banyak lokasi menurun karena kekurangan air,” ujarnya, Kamis (27/8/2026).

Tekanan terhadap tanaman tidak hanya berasal dari minimnya ketersediaan air. Angin kencang yang terjadi selama musim kemarau turut memperbesar risiko serangan hama dan penyakit tanaman. Kondisi lahan yang kering dinilai membuat penyebaran gangguan tanaman berlangsung lebih cepat.

Sejumlah wilayah mulai merasakan dampaknya. Di Kampung Buyung-Buyung dan Semurut, produksi padi masih berlangsung, tetapi mengalami penurunan cukup signifikan. 

Sementara itu, kondisi lebih berat terjadi di Merancang karena sebagian besar tanaman mengalami kegagalan produksi.

“Buyung-Buyung dan Semurut tidak gagal semua, tetapi hasilnya menurun. Di Merancang, sebagian besar gagal,” katanya.

Sebaliknya, kondisi produksi di Kampung Tasuk dan Labanan masih relatif lebih baik meski turut mengalami penurunan. Perbedaan tersebut menunjukkan ketersediaan sumber air menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas lahan selama kemarau.

Untuk menekan dampak kekeringan, DTPHP telah mendistribusikan bantuan pompa air kepada petani. Peralatan tersebut digunakan untuk mengalirkan air dari sumber yang masih tersedia ke lahan pertanian.

“Petani yang masih bisa panen sebagian terbantu dengan pompa,” ungkapnya.

Namun, distribusi pompa belum mampu menjangkau seluruh lahan terdampak. Jarak sumber air yang semakin jauh juga menjadi kendala karena musim kemarau berlangsung berkepanjangan.

Dampak serupa mulai dirasakan pada komoditas jagung dan cabai. Petani jagung memilih menunda penanaman sambil menunggu hujan, sedangkan tanaman cabai yang masih produktif dipertahankan melalui penyiraman.

Padi, jagung, dan cabai menjadi komoditas strategis yang mendapat perhatian pemerintah daerah. Jika hujan baru turun sekitar Oktober, jadwal tanam berpotensi bergeser hingga penghujung tahun.

Pemantauan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Sebab, semakin panjang masa kemarau, semakin besar pula risiko penurunan produksi pertanian Berau hingga akhir 2026.

“Kami terus memantau cuaca dan dampaknya terhadap lahan pertanian,” tandasnya. (*)

Editor: Erwin

Produksi Padi Baru 40 Persen, DTPHP Berau Salurkan Pompa Air Hadapi Kemarau

Kamis, 27/08/2026

Sektor Pertanian padi dan jagung di Kabupaten Berau. (Foto: Indri/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait