Senin, 10/08/2026

Ada 923 Hotspot Mengintai Berau, Kecamatan Segah jadi Titik Terpanas Karhutla

Senin, 10/08/2026

Aktivitas titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Kabupaten Berau yang menjadi indikasi meningkatnya potensi karhutla. (Dok BPBD Berau).

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Ada 923 Hotspot Mengintai Berau, Kecamatan Segah jadi Titik Terpanas Karhutla

Senin, 10/08/2026

logo

Aktivitas titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Kabupaten Berau yang menjadi indikasi meningkatnya potensi karhutla. (Dok BPBD Berau).

Penulis : Indri

KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau memasuki periode rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam sembilan hari pertama Agustus 2026, 923 titik panas atau hotspot terdeteksi di Bumi Batiwakkal, dengan Kecamatan Segah menjadi kawasan yang paling mengkhawatirkan. Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau mencatat lonjakan hotspot terjadi menjelang akhir periode pemantauan. 

Pada 8 Agustus saja jumlah hotspot mencapai 213 titik, menjadi angka tertinggi dalam periode 1–9 Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya risiko karhutla di tengah atmosfer Berau yang relatif kering. BMKG mencatat minimnya curah hujan dan tingginya suhu maksimum harian turut menciptakan kondisi yang mendukung kemunculan titik panas. 

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau Ade Heryadi meminta kewaspadaan ditingkatkan, terutama di wilayah yang menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi. “Kewaspadaan terhadap potensi karhutla perlu ditingkatkan," kata Ade kepada Korankaltim.com Senin (10/8/2026) hari ini. 

Segah menjadi kawasan dengan tren hotspot yang paling mencolok. Jumlah titik panas di wilayah tersebut meningkat dari 22 titik pada 3 Agustus menjadi 54 titik pada 7 Agustus dan kemudian mencapai 65 titik pada 8 Agustus. Jika dilihat secara harian, tren peningkatan juga terlihat jelas. 

Setelah mencatat 31 titik pada 1 Agustus dan 70 titik pada 2 Agustus, jumlah hotspot meningkat menjadi 132 titik pada 5 Agustus, 127 titik pada 6 Agustus, 174 titik pada 7 Agustus, hingga menembus 213 titik pada 8 Agustus. 

Ancaman tidak hanya berada di daratan. Pulau Derawan juga mencatat konsentrasi hotspot yang cukup tinggi. Kawasan tersebut terdeteksi 28 titik pada 1 Agustus, melonjak menjadi 55 titik pada 2 Agustus, dan kembali mencatat 40 titik pada 9 Agustus. Dari sisi meteorologi, kondisi Berau saat ini belum memberikan dukungan signifikan terhadap pembentukan awan hujan. 

Analisis BMKG menunjukkan indeks ENSO berada pada kategori El Nino kuat hingga sangat kuat, sedangkan MJO tidak berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di Indonesia selama sebagian besar periode pengamatan. 

Kondisi kering tersebut diperparah suhu udara yang relatif tinggi. Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau mencatat suhu maksimum 36,2 derajat Celsius pada 4 Agustus 2026. Curah hujan juga sangat minim, yakni hanya 15,5 milimeter pada 2 Agustus dan nihil pada hari-hari lainnya dalam periode pengamatan. 

Indikator kelembapan bahan bakar permukaan atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) juga menunjukkan mayoritas wilayah Berau berada pada kategori sangat tinggi selama 1–9 Agustus. Artinya, kondisi vegetasi dan bahan bakar permukaan relatif mudah terbakar. 

BMKG memprakirakan cuaca Berau masih didominasi kondisi cerah berawan hingga berawan. Peluang hujan memang ada, tetapi baru diprakirakan terjadi pada malam 11 Agustus dengan intensitas ringan. 

Sementara itu, curah hujan bulanan diprediksi berada pada kisaran 20–150 milimeter dan sifat hujan berada pada kategori normal hingga bawah normal hingga September 2026. Dengan kondisi tersebut, BMKG meminta masyarakat tidak lengah terhadap potensi kebakaran. Aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkendali berpotensi memperburuk situasi, terutama di wilayah yang memiliki konsentrasi hotspot tinggi. 

“Jangan melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran," pinta Ade. BMKG merekomendasikan penguatan patroli dan deteksi dini, pemantauan wilayah kering serta konsentrasi hotspot, penyediaan embung air darurat, dan pembuatan sekat bakar di kawasan perkebunan. 

Informasi peringatan dini BMKG juga diminta menjadi salah satu acuan dalam mengantisipasi lonjakan hotspot selama puncak musim kemarau. Lonjakan hotspot hingga ratusan titik dalam sehari menjadi peringatan bahwa ancaman karhutla di Berau bukan sekadar potensi. 

"Tanpa pencegahan sejak dini, titik panas yang terus bermunculan berisiko berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas," tutupnya. 

Editor: Aspian Nur

Ada 923 Hotspot Mengintai Berau, Kecamatan Segah jadi Titik Terpanas Karhutla

Senin, 10/08/2026

Aktivitas titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Kabupaten Berau yang menjadi indikasi meningkatnya potensi karhutla. (Dok BPBD Berau).

Share

Berita Terkait