Kendati secara perhitungan astronomi (hisab) posisi hilal di Kota Balikpapan sudah berada pada ketinggian yang aman, keberadaan awan tebal menyebabkan hilal tidak dapat teramati, baik secara kasat mata maupun menggunakan alat optik.
Sejak sore, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) Balikpapan telah bersiap melakukan pemantauan di Balikpapan Islamic Center dengan menggunakan instrumen optik.
Namun, kondisi cuaca yang kurang bersahabat membuat proses pengamatan tidak membuahkan hasil.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, mengatakan hingga batas waktu matahari terbenam pukul 18.10 WITA, hilal tidak terlihat akibat tertutup awan tebal di ufuk barat.
“Kondisi cuaca sore ini memang mendung. Padahal, jika langit bersih, peluang kamera menangkap citra hilal sangat terbuka lebar karena posisinya sudah lumayan tinggi, yaitu 5,17 derajat dengan elongasi 9,75 derajat, serta umur bulan yang sudah menginjak 14 jam,” jelas Rasmid usai pengamatan, Minggu (17/5/2026).
Rasmid menegaskan, secara sains murni dan data astronomis, posisi hilal tersebut sejatinya sudah mutlak memenuhi kriteria menteri-menteri agama se-Asia Tenggara (MABIMS) untuk memasuki bulan baru. Namun, verifikasi faktual di lapangan terpaksa nihil akibat faktor alam.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Balikpapan, Masrivani, menyampaikan, hasil pemantauan yang terhalang mendung ini akan langsung dilaporkan ke sidang isbat Kementerian Agama RI di Jakarta sebagai bahan pertimbangan nasional.
Meskipun di Balikpapan hilal tidak terlihat akibat faktor cuaca lokal, Masrivani menyebut peluang awal Zulhijah jatuh serentak di Indonesia tetap terbuka lebar, tergantung laporan dari daerah lain yang kondisi langitnya lebih bersih.
“Di Balikpapan memang tidak kelihatan karena mendung, namun secara hisab nasional posisinya sudah seragam tinggi di atas kriteria minimal 3 derajat. Jika ada daerah lain di Indonesia yang berhasil melihat dan merukiat hilal malam ini, maka insyaAllah awal Zulhijah dan pelaksanaan hari Arafah 9 Zulhijah di Indonesia tetap akan berbarengan dengan hari wukuf di Tanah Suci,” terang Masrivani.
Hingga seusai waktu Magrib, tim gabungan akhirnya menyudahi pemantauan dan langsung melakukan evaluasi serta rekapitulasi data untuk diteruskan ke pusat sebagai sumbangsih data falakiyah dari Kaltim.
Editor: Erwin