Pemantauan dilakukan dengan memasang sejumlah peralatan optik guna mengamati kemunculan hilal sesaat setelah matahari terbenam.
Kegiatan ini dijadwalkan dimulai sekitar pukul 17.00 WITA, sementara matahari terbenam pada pukul 18.24 WITA. Sebelumnya, fase konjungsi (ijtimak) telah terjadi pada pukul 09.25 WITA.
Penelaah Teknis Kebijakan Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan menjelaskan, berdasarkan perhitungan astronomi, posisi hilal di wilayah IKN berada pada ketinggian sekitar 2,06 derajat dengan sudut elongasi 4,5 derajat.
Nilai tersebut masih berada di bawah kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni minimal 3 derajat untuk ketinggian dan 6,4 derajat untuk elongasi.
“Secara perhitungan astronomi, posisi hilal hari ini masih belum memenuhi syarat visibilitas. Namun, pengamatan tetap dilakukan untuk memastikan kondisi di lapangan,” ujar Firmansyah.
Kondisi cuaca juga menjadi faktor penting dalam pengamatan. Hingga sore, langit di lokasi pengamatan masih berawan sehingga berpotensi menghambat visibilitas hilal meskipun secara teoritis memungkinkan untuk diamati.
“Awan dan partikel di atmosfer sering kali menjadi kendala utama dalam rukyatul hilal. Walaupun posisi hilal sudah cukup, jika tertutup awan tetap sulit terlihat,” tambah Firmansyah.
Pemantauan hilal ini merupakan bagian penting dalam penentuan awal bulan dalam kalender hijriah, termasuk untuk menetapkan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Hasil pengamatan dari berbagai titik di Indonesia nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat pemerintah.
Dengan kondisi ketinggian dan elongasi yang masih di bawah standar, serta potensi gangguan cuaca, kemungkinan hilal terlihat di wilayah IKN pada hari ini relatif kecil.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi terkait penetapan awal bulan hijriah yang akan disampaikan setelah sidang isbat.
Editor: Erwin