Peristiwa tersebut tidak hanya menghanguskan barang dagangan, tetapi juga memupus harapan puluhan pedagang yang menggantungkan hidup dari lokasi itu. Sejumlah pedagang tampak syok dan hanya bisa menyaksikan puing-puing usaha mereka yang kini rata dengan tanah.
Helda, salah satu pedagang kebab, tak kuasa menahan tangis saat melihat dua rombong miliknya yang baru beroperasi sejak April 2025 turut menjadi korban.
“Semua habis. Kerugiannya sekitar Rp35 juta. Peralatan yang terbakar itu juga tidak mudah dicari. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah atau pengelola,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Tiyas, pedagang lalapan ikan dan ayam bakar, yang juga baru merintis usaha di sana. Ia mengatakan kebakaran diketahui setelah dirinya mendapat telepon dari penjaga area sekitar pukul 02.45 WITA. “Begitu sampai, api sudah besar. Tidak ada yang bisa diselamatkan,” ucapnya.
Penyelidikan penyebab kebakaran masih berlangsung. Kanit Reskrim Polsek Balikpapan Selatan, Iptu Iskandar, menyatakan bahwa timnya tengah mengumpulkan keterangan dan melakukan olah tempat kejadian perkara bersama Tim INAFIS.
“Sudah ada tiga saksi yang diperiksa dan menunggu hasil olah TKP. Untuk penyebab pasti belum dapat dipastikan, termasuk isu tabung gas, di dalami,” ungkap Iskandar.
Kebakaran ini diperkirakan menimbulkan kerugian material lebih dari Rp100 juta. Setiap rombong diketahui memiliki perlengkapan dagang lengkap, seperti kompor, alat masak, dan bahan makanan.
Warga sekitar menyebut mobil pemadam tiba sekitar 15 menit setelah api mulai membesar. Meski pos damkar terdekat tidak terlalu jauh, api sudah terlanjur meluas dan sulit dikendalikan.
Pihak kepolisian bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) setempat masih melakukan pendataan jumlah pedagang terdampak dan total kerugian.
Editor: Erwin