Salat tersebut diikuti oleh kurang lebih 700 jamaah, termasuk warga sekitar yang tidak tergabung dalam komunitas.
Ketua Panitia, Hannes Abdul Majid mengatakan bahwa penentuan 1 Syawal 1446 Hijriah di tanggal 30 Maret 2025 didasarkan hasil rukyatul hilal global yang dilakukan pada dini hari sekitar pukul 02.30 WITA.
“Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan pengamatan hilal yang dilakukan di berbagai belahan dunia,” ujarnnya.
Salat Idulfitri dimulai pada pukul 07.30 WITA, dengan Imam Muhammad Syauqi memimpin jalannya salat dengan khidmat.
Sementara itu, khutbah disampaikan oleh Muhammad Rozi, yang menyampaikan pesan penting mengenai kondisi umat Islam saat ini.
Dalam khutbahnya, Khatib menyoroti kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang sedang dihadapi umat Islam di tanah air dan dunia. Ia menyatakan keprihatinannya terhadap kesenjangan yang semakin lebar antara rakyat dan elit penguasa.
“Rakyat semakin terhimpit oleh kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang, sementara kezaliman dan eksploitasi sumber daya alam terus terjadi,” ujar Khatib.
Khatib juga menegaskan permasalahan besar yang dihadapi oleh umat Islam di dunia saat ini adalah sistem kapitalisme-sekuler yang dianggap merusak tatanan sosial dan kehidupan.
“Kapitalisme sekuler telah mencabut keberkahan hidup umat manusia dan menjauhkan kita dari ajaran Islam yang sesungguhnya,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut dirinya juga mengajak seluruh umat Islam untuk kembali memperkuat persatuan dan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam diri pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat dan negara.
“Mari kita wujudkan cahaya Islam tidak hanya dalam hati, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan kita,” tandasnya.
Usai salat Idulfitri, kegiatan diakhiri dengan doa agar umat Islam senantiasa diberkahi, diberikan kekuatan dan dipersatukan dalam menghadapi tantangan masa depan.
Editor: Erwin