Koordinator Lapangan (Korlap) dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Balikpapan, Tion mengatakan dalam kesempatan tersebut pihaknya menyuarakan protes terkait kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat.
Menurut Tion, aksi ini berangkat dari keresahan masyarakat Balikpapan yang merasa dampak kebijakan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, semakin memberatkan rakyat.
Mereka mengangkat isu-isu baik nasional maupun lokal, salah satunya adalah kebijakan efisiensi anggaran yang dikeluarkan melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025.
Kebijakan ini, menurut mereka berpotensi memangkas anggaran sektor penting seperti pendidikan, kesehatan dan pembangunan.
“Kebijakan ini berpotensi mengorbankan sektor-sektor yang lebih penting bagi masyarakat. Terlebih, program makan bergizi gratis yang menjadi salah satu unggulan pemerintah saat ini, kami anggap justru menjadi beban anggaran negara,” ujarnya kepada awak media.
Para demonstran juga mengkritisi kebijakan efisiensi anggaran yang dianggap tidak tepat sasaran, seperti pemborosan anggaran untuk kabinet yang dianggap terlalu besar dengan banyaknya menteri, wakil menteri dan staf khusus.
Mereka menyarankan agar efisiensi anggaran dilakukan pada sektor yang lebih substansial, termasuk pengurangan anggaran perjalanan dinas dan kegiatan yang dianggap tidak mendesak.
Isu lain yang turut disorot adalah Rancangan Undang-Undang Minerba yang memberikan izin usaha pertambangan kepada ormas keagamaan, perguruan tinggi, dan UMKM.
Mahasiswa melihat kebijakan ini akan semakin memperburuk kerusakan lingkungan di Kalimantan Timur yang sudah banyak terdampak oleh aktivitas pertambangan.
“Kami menolak keterlibatan perguruan tinggi dalam industri pertambangan karena ini akan merusak independensi akademik dan membatasi ruang gerak mahasiswa untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat,” bebernya.
Di tingkat lokal, pihaknya juga menyoroti sejumlah masalah infrastruktur di Balikpapan, seperti kecelakaan yang terjadi di Muara Rapak akibat kelalaian pengaturan jam operasional kendaraan berat.
Ia menilai pemerintah tidak tegas dalam menindak kelalaian tersebut. Selain itu, masalah parkir liar yang terjadi di sepanjang Jalan Kilo 15 juga menjadi sorotan karena telah menelan korban jiwa, termasuk di antaranya mahasiswa dari STT Migas dan ITK.
“Masih banyak masalah yang belum ditangani dengan serius, seperti banjir dan krisis air bersih yang menjadi masalah utama di Balikpapan,” pungkasnya.
Editor: Erwin