Tiba di lokasi, Nuruddin pun dihampiri oleh dua orang tak dikenal dengan mengendarai sebuah sepeda motor. Saat itu, kedua pelaku menanyakan nama korban. "Pas saya sudah sebut nama saya. Saya langsung dipukuli kedua orang itu berkali-kali," kata Nuruddin ditemui di Mapolresta Balikpapan, Senin (18/9/2023).
Padahal, Nuruddin sama sekali tak mengenali kedua orang tersebut. Sehabis menyebutkan namanya, bogem mentah pun melayang ke wajah Nuruddin. Setidaknya sebanyak delapan pukulan mendarat di wajah dan tubuh Nuruddin.
Akibatnya, Nuruddin pun mengalami sejumlah luka memar dan pecah pada bagian pelipis kiri. Meski darah sudah mengucur, Nuruddin saat itu tetap saja tak diberi ampun oleh kedua orang tak dikenal tersebut.
Nuruddin baru selamat saat berhasil kabur melarikan diri dari kedua pelaku. Sementara darah yang mengucur di wajahnya saat itu dibasuh dengan pakaian untuk dijadikan barang bukti. Malamnya, Nuruddin pun membuat laporan ke Polresta Balikpapan. Dia juga menyertakan hasil visum luka robek dipelipis kirinya yang mendapat lima jahitan. "Saya gak tahu motif mereka mukulin saya itu apa. Saya gak punya masalah, tiba-tiba didatangi mereka (pelaku) berdua dan dipukuli sampai seperti ini," ungkapnya.
Dari ingatan Nuruddin kedua pelaku masing-masing berperawakan tinggi dengan postur tubuh gempal sementara satu lainnya sedikit kurus. Nuruddin yang tak kenal sama sekali dengan kedua pelaku pun menduga, keduanya hanyalah suruhan.
Dia pun penasaran siapa otak pemukulan tersebut. Pasalnya, Nuruddin mengaku sama sekali tak memiliki musuh ataupun masalah dengan orang lain selama ini. "Saya berharap Polresta Balikpapan bisa segera mengusut kasus ini secara tuntas. Saya hanya ingin tahu siapa yang menyuruh mereka (pelaku) mukul saya," imbuhnya.
Sementara itu, Kanit Jatanras Satreskrim Polresta Balikpapan, IPDA Wempy Ardeta hingga saat ini telah memeriksa sejumlah orang saksi terkait kasus pemukulan tersebut. "Ada tiga orang saksi kita periksa. Satu itu ketua RT setempat dua lagi dari warga sekitar lokasi kejadian, sementara masih itu," singkatnya.
Editor: Maruly Zainuddin