Kapolsek Balikpapan Utara, Komisaris Polisi Bitab Riyani menerangkan, penemuan jasad pria tersebut pertama kali diketahui oleh anak korban sendiri yakni ES (30). Saat itu, ia mendapati ayahnya dalam kondisi bersimbah darah di dalam kamar.
Sebelum kejadian, korban berinisial MS (54) sempat mengeluh sesak napas kepada istrinya SR. Kemudian MS meminta istrinya itu untuk mematikan AC di ruang kamarnya. "Suaminya juga saat itu ingin tidur sendirian di kamar," kata Kompol Bitab Riyani kepada korankaltim.com, Senin (28/8/2023).
Korban saat itu langsung mengunci pintu kamarnya dan mengurung diri di dalam. Melihat tingkah korban saat itu, anak korban ES pun berinisiatif mengetuk pintu kamarnya dan meminta korban untuk membukanya. "Sambil ngintip lewat bawah pintu, tapi pintunya gak dibuka saat itu," terangnya.
ES pun meminta adik bungsunya GS untuk mengintip dari celah jendela kamar. Pasalnya saat itu kondisi kamar korban gelap karena lampu di dalam ruang kamar dimatikan oleh korban.
Kondisi yang gelap membuat keduanya tak bisa melihat secara jelas di dalam kamar. Karena khawatir, GS pun berinisiatif mengambil palu dan memecahkan kamar jendela ayahnya itu kemudian masuk ke dalam. "Saat ditemukan, korban sudah dengan kondisi leher tergorok dengan nafas tersengal-sengal," ungkapnya.
Korban saat itu ditemukan oleh anaknya di bawah tempat tidur yang berhadapan dengan kamar mandi. Di dalam kamar juga ditemukan sebilah pisau yang diduga digunakan korban untuk mengakahiri hidupnya.
Bitab melanjutkan, bahwa korban mengakhiri hidupnya karena merasa frustasi dengan sakit yang dideritanya bertahun-tahun. Sakit itu tak kunjung sembuh meski telah diobati berulangkali. "Dugaannya depresi karena sakit. Korban ini sakit kanker paru-paru stadium empat," lanjutnya.
Menderita sakit bersama istrinya yang juga terkena kanker rahim, diduga menjadi penyebab korban mengakhiri hidupnya di dalam kamar.
Malam sebelum ditemukan tewas, istri korban sempat menemani korban di dalam kamar. Namun, malam itu mendadak korban ingin tidur sendiri di dalam kamar dan meminta sang istri keluar. "Pas dipindah ke ruang tengah, nyawa korban sudah tidak tertolong lagi. Tadi sudah dievakuasi ke rumah sakit Bhayangkara, nanti akan dikembalikan ke pihak keluarga," tutupnya.
Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu. Misalnya saja Komunitas Save Yourselves melalui Instagram @saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi http://pijarpsikologi.org/konsulgratis.
Editor: Maruly Zainuddin