"Bukan saya saja yang mengeluh karena sepi pembeli, tapi teman-teman penjual buah di sini juga banyak yang mengeluh," kata Samriah yang menjual buah-buahan kepada Korankaltim.com Senin (17/10/2022) siang tadi.
Sebelum tol Km 13 dibuka pendapatan hasil dari jualan buah Samriah sebesar Rp300 ribu perhari, tapi sekarang paling besar hanya Rp70 ribu perhari. “Belum lagi modalnya setiap hari. Kalau buah tidak laku kami buang, jadi rugi,” paparnya. "Saya berharap pemerintah bisa berika solusi untuk mengatasi keluhan kami sebagai pedagang di Km 21," ujar Samriah lagi.
Sekadar diketahui, buah yang dijual di Km 21 merupakan buah segar yang langsung diambil dari petani di sekitar daerah tersebut, terdiri dari buah naga, cempedak, elai, salak, sawo, tomat, rambutan dan pisang juga sayur mayur. Harganya pun tentu berbeda dengan harga di pasar, karena langsung dari petani.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Adam membenarkan adanya penurunan omset para pedagang. "Selama berfungsinya tol, para pedagang merasakan omset penjualan turun drastis dibawah 50 persen," ucap politisi Partai Hanura itu dikonfirmasi terpisah.
Untuk menindaklanjuti kelurahan para pedagang, ada dua rest area di tol Balsam yang masih minim penjual. jika dimungkinkan, pedagang bisa diberikan fasilitas lapak oleh pemerintah untuk beralih berjualan di rest area tol Balsam. "Tolong perhatikan mereka, ini harus pemerintah yang menyiapkan," kata Adam lagi.
Adam berharap dengan adanya persetujuan pemerintah untuk pemindahan lapak pedagang ke rest area dapat meningkatkan penghasilan dan perekonomian warga Km 21. " Tidak hanya itu, seluruh pengguna jalan tol bisa dengan mudah mendapatkan oleh-oleh khas Balikpapan," jelasnya
Penulis -Laeko
Editor: Aspian Nur