Diakuinya untuk membackup air yang ada untuk kebutuhan sehari-hari dirinya biasanya mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-harinya. Mulai dari mandi, cucu baju masak dan lain sebagainya.
"Kalau sudah mendesak yah terpaksa beli air. Itu kalau kita beli air untuk harganya Rp70-75 ribu per tandonnya," jelasnya.
Kendati demikian, terkait kurangnya pasokan air ini juga, diakuinya, sudah ada beberapa warga yang mengadukan hal ini dan biasnya langsung tindak lanjuti oleh pihak PDAM.
"Biasanya kalau habis di cek oleh petugas PDAM malamnya air lancar dan deras. Namun itu tak berlangsung lama, paling seminggu kembali lagi seperti semula," jelasnya.
Untuk itu, dirinya berharap kondisi ini bisa segera ada solusi dari pihak terkait mengenai permasalahan air ini. "Kami harapkan lah air PDAM ini bisa mengalir dengan lancar. Karena mulai dari dulu kalau siang air gak pernah ngalir," tandasnya.
Ketua RT 40, Kelurahan Gunung Samarinda, Wagiman juga membenarkan bahwa untuk aliran air PDAM di lingkungan RT-nya memang agak sulit mengalir.
Bahkan sudah ada beberapa warga yang mengadukan hal ini ke pihak PDAM namun belum juga ada tanggapan.
Dari informasi yang dirinya terima untuk di daerah lingkungan RT-nya tersebut untuk aliran air PDAM masuk dalam zona merah.
"Kalau untuk warga saya seluruh nya ada sekitar 160 Kepala Keluarga (KK). Dan memang kalau air PDAM mengalir hanya malam hari itupun sebentar saja lalu mati. Paling dapat berapa ember lalu mati lagi. Itu sih laporan yang kami terima dari warga," tambahnya.
Meski demikian, diakuinya sebagian warga ada yang memanfaatkan sumur bor dan ada juga yang membeli air. "Yah kami sebagai RT berharap semua warga bisa teraliri air PDAM dengan lancar," tandasnya.
Penulis: Laeko
Editor: Supiansyah