Dilla yang merupakan atlet dari Muaythai Musashi Camp mengalami luka memar di area wajah hingga mengeluarkan banyak darah akibat pukulan benda tumpul. Aksi tersebut terjadi pada Selasa (12/4/2022) siang tadi sekira pukul 10.30 WITa.
Peristiwa berdarah di bulan suci Ramadan ini bermula ketika terduga pelaku berinisial HP yang merupakan Pembinaan Prestasi (Binpres) cabang olahraga muaythai Balikpapan memposting di akun media sosial Instagram dan menandai Dilla dengan caption menuduh sebagai maling dan meminta untuk menemuinya.
Bermaksud untuk klarifikasi, Dilla bersama dua temannya kemudian mendatangi rumah HP yang berada di kawasan Ruko Grand City yang juga dijadikan lokasi latihan.
Sesampainya di rumah HP, Dilla justru dipisahkan dari temannya yang lain dan menyekapnya di dalam rumah dan dianiaya dengan cara dipukul dan ditendang sampai mengalami pendarahan di area wajah dan hidung.
Ketua Musashi Camp Evi Maryono, SH menyayangkan peristiwa tersebut yang mana seharusnya diselesaikan secara musyawarah dan kekeluargaan, terlebih Dilla merupakan atlet junior yang seharusnya dibina oleh senior.
"Dilla atlet junior kami dan memiliki segudang prestasi. Sebagai Binpres harusnya membina atlet di Balikpapan bukan malah dilakukan penganiayaan," sesal Evi.
Atas kejadian itu Evi menyiapkan pengacara untuk melakukan pendampingan proses hukum atas penganiayaan tersebut di Kepolisian.
"Musashi Camp beserta keluarga menunjuk pengacara untuk mendampingi kasus ini yaitu Bung Sapto Hadi Pamungkas untuk melaporkan kejadian penganiayaan ini ke pihak kepolisian," paparnya.
Saat ini Dilla yang didampingi pengacara sudah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Balikpapan Utara dan sudah dilakukan visum. "Kami sudah melakukan laporan ke Polsek Balikpapan Utara dan dilakukan visum secara medis informasi awal memang ditemukan memar pada bawah mata kiri dan pendarahan sekitar hidung dan mulut serta bagian tubuh yang lain.” Ujar Sapto.
Sapto menegaskan pihaknya akan terus melakukan proses hukum hingga me hijau. "Dari hal tersebut dari pihak keluarga akan tetap memproses peristiwa ini karena peristiwa seperti ini bukan yang pertama dialami korban mendapat ancaman oleh HP, sampai pada akhirnya korban berhenti menjadi murid HP di BFC karena banyak mendapat tekanan fisik maupun psikis yang dialami korban," pungkas Sapto.
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Aspian Nur