Di situ ada gula pasti ada semut, begitu peribahasa yang tepat ditujukan untuk Kecamatan Sepaku. Efek domino pun kian dirasakan selain infrastruktur yang terus dipenuhi, juga fasilitas pendukung lainnya seperti air bersih hingga listrik tanpa byarpet.
Di sektor properti pun demikian harga tanah terus meroket. Dulu harga Rp2 juta hingga Rp5 juta ditakar mendapat satu hektar lahan di kawasan itu, namun kini harga itu dihitung untuk satu meter persegi khusus di daerah strategis.
Ronggo Warsito warga RT 10 Sepaku 4 Desa Bumi Harapan Kecamatan Sepaku yang rumahnya tepat berhadapan dengan pintu gerbang IKN Nusantara mengaku masih tidak percaya lahan miliknya menjadi beranda IKN Nusantara.
Dia mengaku sudah banyak investor yang menawar hingga miliaran rupiah untuk membeli lahan miliknya namun pria kelahiran Sragen Jawa Tengah ini enggan untuk menjual.
"Ya ada yang pernah menawar tapi ya gak dijual, pernah ada yang ingin membeli saya gak jual. Kalau di sebelah ada yang nawar Rp6 miliar di tempat saya di atas Rp6 miliar,"sebut pria berambut grondong kepada Korankaltim.com Selasa (15/3/2022) hari ini.
Sejak menginjakkan kaki di Sepaku pada 2005 silam Ronggo memang berinvestasi pada lahan dimana saat itu dibanderol Rp2 juta untuk satu hektare.
Pada tahun 2007 dia membeli lahan senilai Rp 70 juta dengan luas 20 hektar hingga saat ini total lahan yang dimiliki seluas 50 hektare.
Ayah tiga anak ini juga membuka usaha warung kelontong dan warung makan yang juga dijadikan tempat tinggal. Selain itu pengembangan bisnis disektor perkebunan kelapa sawit dan karet.
"Dulu saya jualan baju tahun 1999 di Sampit, Kalimantan Tengah, kemudian ke NTB dan 2005 ke sini jualan baju sama beli tanah, ya memang saya sengaja buat investasi buat anak juga ke depannya," papar Ronggo.
Keberadaan IKN Nusantara di daerahnya menjadi prospek besar untuk pengembangan bisnis. "Prospek ke depan mau dibuat hotel dan rumah makan saya yakin ke depan maju saya punya lahan di pinggir jalan semua," ungkap Ronggo.
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Aspian Nur