Raut kekhawatiran pun tak mampu mereka sembunyikan. Seperti Haris, pemuda yang berusia 30 tahun ini sama sekali tidak mengetahui kondisi keluarganya di sana. “Saya belum tahu bagaimana kondisi ibu. Berkali-kali mencoba kontak telepon tapi nggak tembus-tembus. Jadi saya mau ke sana. Mau melihat dan langsung mencari keluarga yang lain,” katanya.
Tak hanya di kota Palu, keluarganya yang bermukim di Donggala pun tak bisa dihubungi. “Saya juga nggak tahu keberadaan keluarga di sana. Kalau dari Palu ke Donggala itu jarak tempuhnya dua jam,” lanjutnya.
Haris yang tiba dari kabupaten Berau ini juga sudah menelepon beberapa nomor posko terdekat, tapi lagi-lagi, hasilnya tak maksimal. “Sudah semua dihubungi, tapi informasinya masih simpang siur. Waktu saya tanyakan lewat telepon, daftar nama korban yang ada di posko juga tidak ada,” ungkap Haris.
Ia tak sendirian, ada juga Fitri yang ingin pulang ke kota Palu setelah mengetahui bencana alam dahsyat terjadi di kota itu. Namun perempuan ini tidak seresah Haris karena semua anggota keluarganya selamat.
“Ibu dan adik-adik saya di sana. Saya terakhir komunikasi tadi subuh. Alhamdulillah semua selamat, cuma kata ibu saya, kondisi di pengungsian tidak layak. Tidak ada air bersih dan mereka juga tinggal di tenda,” katanya.
Fitri pun berkeinginan membawa semua keluarganya untuk tinggal sementara di kota Balikpapan. Terlebih rumah nenek dan pamannya habis tersapu tsunami di Pantoloan. “Kasihan adik saya, dia baru beberapa minggu melahirkan. Saya juga bawa makanan dan susu untuk keponakan,” tuturnya.
Hasanuddin yang baru tiba dari Berau, bergegas hendak naik ke atas KM Lambelu. “Ini cobaan yang harus kami rasakan. Kami minta doanya semua. Alhamdulillah, saya sudah terhubung dengan anak-anak, cuma ya terpencar. Istri saya juga terpisah, tapi selamat semua,” ujar Hasanuddin. (hn)