“Pesanan sudah ada yang masuk. Ukurannya macam-macam dan kami bisa memproduksi 200 tas dalam waktu 2 jam karena dikerjakan oleh lima penjahit,” kata Dwi Ida (11/7).
Awalnya Ida dan rekan-rekannya dilatih Lembaga Swadaya Masyarakat yang konsen di lingkungan dan sejak itulah rutin membuat tas yang bukan berbahan plastik dengan berbagai macam ukuran.
“Kita buat ada yang untuk 10 kilogram tapi ada juga yang besar. Untuk bahannya dari kain dan spunbond. Satu kantong ukuran kecil dijual Rp6 ribu dan yang besar Rp25 ribu,” terangnya.
Sedangkan untuk bahan tas nonplastik itu dipesannya dari pulau Jawa meski ada pula bahan lokal. Itu dilakukan untuk menyiasati harga dan menepis anggapan mahal dari konsumen.
“Supaya perbedaan harganya nggak jauh sehingga pesanan bisa lebih murah. Harga jualnya juga. Yang pesan tas ini ada juga loh dari ritel di Samarinda,” jelasnya.
Meski begitu, Ida juga tetap membuat tas daur ulang dari bahan plastik termasuk membut hiasan dinding dan pot bunga. “Produksinya tergantung dari pesanan untuk daur ulang ini, tetapi bahannya sudah kami kumpulkan terlebih dahulu,” ungkapnya. (hn518)