“Dulu limbahnya berbau dan mengganggu sehingga perlu dilokalisir. Lagi pula industri ini rawan bencana kebakaran karena lokasinya juga dekat dengan pemukiman penduduk. Mulai dari Gunung Sari sampai ke Maryati,” kata Adwar, kemarin.
Adwar menerangkan, pihaknya menargetkan Sentra IKM Somber ditempati 224 perajin tahu tempe. “Semua dijadikan satu agar lebih memudahkan. Limbah sisa industri juga sudah tidak mengganggu lagi karena ini untuk kerapian kota,” ujarnya.
Saat ini Sentra IKM Somber telah ditempati sekitar 60 perajin. Mereka tidak hanya membuat tahu tempe, namun ada juga yang mengerjakan permainan anak-anak dan perbengkelan. Pembenahan dilakukan secara bertahap karena anggaran terbatas. Namun demikian, ditarget tuntas tahun ini juga.
“Ada pembangunan 4 unit yang anggarannya dari Pemprov Kaltim. Kalau APBD kota dianggarkan Rp1,9 miliar. Kalau tahun ini selesai, maka 2019 nanti, sudah bisa digunakan perajin lainnya,” terang Adwar.
“Teknologinya telah dikembangkan dan ada rumah percontohan yang bisa diikuti perajin lain. Meski tetap yang utama, adalah tahu tempe. Karena ini kawasan industri berwawasan lingkungan yang penggunaan alat produksi yang bisa dikendalikan,” jelasnya.
Sentra IKM Somber yang mengadaptasi pola produksi dari Yogjakarta dan Semarang, dan memiliki ruang produksi kecil tapi bisa untuk produksi dan juga terlihat lebih rapi. “Limbah industri juga terkendali,” tutup Adwar. (hn518)