Adalah tim dari University of Southern Denmark yang melakukan penelitian ini sebanyak 49 studi sejak tahun 2009 hingga 2019, demikian dilansir dari laman Dailymail.com Sabtu (2/10/2021) hari ini.
Para peneliti pun menyoroti video game, komputer, telepon genggam, penggunaan internet dan menonton televisi sebagai factor penyebab hal itu terjadi pada anak-anak.
Studi yang melibatkan antara 55 dan 369.595 anak-anak dari beberapa negara membuat para peneliti melihat hubungan penggunaan media elektronik, termasuk jenis dan durasi media, dengan pola tidur mereka.
Mereka meneliti waktu, kualitas dan durasi tidur serta kelelahan di siang hari yang dialami pada anak-anak tersebut.
Mereka juga menemukan fakta penggunaan media sosial berandil pada kualitas tidur yang buruk di kalangan remaja.
Pada semua kelompok umur, paparan cahaya biru dari layar dapat menekan produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur, yang menyebabkan durasi tidur yang lebih buruk dan mengganggu siklus tidur-bangun alami.
Lisbeth Lund, penulis utama dari penelitian ini menyebutkan hal tersebut. “Penting bagi anak-anak dan remaja untuk mendapatkan tidur yang cukup untuk menghindari konsekuensi kesehatan yang negative,” kata Lisbeth.
“Kami juga memahami media adalah bagian penting dari kehidupan tapi orangtua harus bisa mengatur seberapa banyak anak-anak mereka terlibat dengan media elektronik untuk meningkatkan kualitas tidur di malam hari,” paparnya.
Ke-49 studi yang dilakukan para peneliti tersebut tersebar dibeberapa negara diantaranya Amerika Utara, Eropa, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara Barat lainnya.
Hanya saja menutu Lisbeth sebagian besar penelitian bersifat observasional sehingga tidak mutlak mengambil kesimpulan tentang sebab dan akibat atau arah antara hubungan penggunaan media dan kualitas tidur.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menarik kesimpulan yang kuat tentang dampak media elektronik pada tidur terutama anak-anak.
“Kesadaran dan intervensi publik dapat dipromosikan tentang potensi dampak negatif pada tidur anak-anak dari perangkat media elektronik yang digunakan secara berlebihan dan mendekati waktu tidur,” jelasnya.
Sebuah penelitian sebelumnya juga memberikan peringatan kalau menghabiskan lebih dari satu jam sehari menonton program di perangkat mdia dapat meningkatkan risiko anak-anak mengalami masalah emosional dan perilaku.
Masalah-masalah ini termasuk hiperaktif, konsentrasi yang buruk, rentang perhatian yang pendek dan kesulitan berhubungan dengan anak-anak lain dan menjalin persahabatan.
Para peneliti, yang dipimpin oleh ilmuwan sosial Janette Niiranen dari Institut Kesehatan dan Kesejahteraan Finlandia di Helsinki, berspekulasi perangkat elektronik sekarang ini mengurangi waktu yang dihabiskan anak-anak untuk membaca, bermain, dan berinteraksi dengan keluarga atau anak-anak lainnya.
Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari San Diego State University menemukan fakta, remaja paling bahagia adalah mereka yang membatasi waktu dengan media digital, sehari kurang dari dua jam.
Lewat dari waktu itu, ketidakbahagiaan meningkat seiring dengan meningkatnya waktu berhadapan dengan layar gadget.
Melihat tren historis dari kelompok usia yang sama sejak 1990-an, para peneliti menemukan proliferasi perangkat layar dari waktu ke waktu bertepatan dengan penurunan umum dalam kebahagiaan yang dilaporkan pada remaja Amerika.
Peserta studi yang lahir setelah tahun 2000 kurang puas dengan kehidupan, memiliki harga diri yang lebih rendah dan tidak bahagia dibandingkan mereka yang tumbuh di tahun 1990-an.
Sejak 2012, rata-rata kepuasan hidup, harga diri, dan kebahagiaan remaja anjlok. Tahun itu menandai titik ketika proporsi yang memiliki smartphone naik di atas 50 persen untuk pertama kalinya.
Editor: Aspian Nur