"Ke depannya akan mulai kami tindak. Saya sangat sedih ketika kita bangga sebagai negara Pancasila dan NKRI, kulitnya ada yang putih, ada yang hitam. Rambutnya ada yang keriting, ada yang botak," ucap Erick Thohir dikutip Bola.com.
"Sukunya juga macam-macam, lalu terjebak hal-hal yang seperti ini. Sangat menyedihkan. Apalagi kalau yang dikecam bangsa sendiri. Itu tidak bisa ditoleransi. Ini harus ada tindakan yang bertahap," jelas Erick Thohir.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus, buka suara terkait sikap pihaknya melihat tiga pemain PSM yang menjadi korban rasial. "Dalam regulasi itu ada ketentuan soal rasial, termasuk bentuk-bentuknya. Misalnya ujaran kebencian, spanduk, dan sebagainya," ungkap Ferry Paulus.
Ferry Paulus mengatakan bahwa pelanggaran terhadap regulasi BRI Liga 1 musim ini, termasuk kasus rasial, dapat dibawa ke meja sidang Komite Disiplin (Komdis) PSSI."Di dalam Kode Disiplin PSSI, yang tertuang tidak hanya nyanyian saja, tapi juga poster. Soal di media sosial ada ujaran kebencian dalam bentuk lain, itu pasti ada tindakan," terang Ferry Paulus.
Lantas, bagaimana cara PT LIB mengidentifikasi pelaku rasial di media sosial? "Dalam ujaran kebencian itu bukan hanya yang diucapkan, tapi visual juga. ini kan dalam bentuk visual, meskipun tidak mudah," tuturnya.
"Tindakan pertama adalah mendegradasikan postingan seperti itu. Kalau ini terus berkembang, tidak ada efek jera. Ini yang baru akan kami lakukan untuk menentukan investigasinya, benar atau tidak," imbuh Ferry Paulus.
"Misalnya suporter yang abu-abu, ini suporter abu-abu yang harus mendapatkan sanksi terhadap klubnya. Meskipun tidak mudah, tapi harus dilakukan. Internal saya juga sudah melakukan investigasi supaya tidak terulang lagi. Apalagi di media sosial kan ada hukuman lain UU ITE juga," terangnya.
Editor: Maruly Zainuddin