Pemerintah Singapura mengeluarkan surat larangan bertanding untuk empat pemain tersebut karena dianggap melanggar itinerary atau rencana perjalanan di Singapura, dimana semua peserta termasuk ofisial hanya dapat berpindah dari hotel yang ditunjuk panitia, ke tempat latihan, ke tempat venue pertandingan dan dilarang keluar atau beraktivitas di luar ketentuan yang disebut peraturan bubble atau gelembung karena berlaku di seputaran kegiatan AFF Cup 2020.
Keputusan mendadak ini membingungkan karena baru diberikan jelang final leg kedua padahal dugaan pelanggaran terjadi sejak 15 Desember lalu.
Sekjen PSSI Yunus Nusi mengklaim PSSI baru menerima surat pemberitahuan dari Pemerintah Singapura Jumat (31/12/2021) atau satu hari menjelang laga leg kedua final Piala AFF 2020.
"Aturan ini sangat aneh. Sebab, Elkan Baggott dan Rizky Ridho bisa bermain pada final pertama. Dua pemain lain juga tidak ada masalah," kata Yunus Nusi. "Ini juga email tidak ada kop surat dan hanya ditulis di badan email. Surat itu dikirim saat malam jelang pergantian tahun baru 2022. Apakah hal ini disengaja atau sesuai aturan?," tutur Yunus Nusi dikutip dari laman goal.com.
"PSSI tentu tidak akan berdiam diri terkait ini. Timnas Indonesia banyak dirugikan selama gelaran Piala AFF 2020 di Singapura," tegas Yunus.
Ini bukan pertama kalinya PSSI atau timnas Indonesia mengungkapkan kekecewaan terhadap Pemerintah Singapura dan juga panitia penyelenggara Piala AFF 2020.
Sebelum Piala AFF 2020 dimulai, Nova Arianto selaku asisten pelatih timnas Indonesia sempat mengeluhkan kualitas makanan yang diberikan oleh panitia. Nova Arianto menilai makanan yang diberikan panitia penyelenggara Piala AFF 2020 kurang layak dari segi kuantitas dan nutrisi karena berbentuk bento, makanan yang biasanya disajikan untuk anak-anak ulang tahun.
Hal senada juga sempat dikeluhkan pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong yang sempat khawatir dengan progres pemulihan kondisi pemain timnas Indonesia karena tidak mendapatkan makanan yang kaya akan nutrisi.
Pada pertengahan Desember 2021, PSSI dan Shin Tae-yong juga sempat mengungkapkan kekecewaan terhadap Pemerintah Singapura setelah Elkan Baggott diwajibkan karantina selama lima hari.
Elkan Baggott wajib menjalani karantina pada 13-18 Desember 2021 karena salah satu penumpang pesawat yang membawanya ke Singapura positif Covid-19 varian Omicron.
PSSI dan Shin Tae-yong saat itu sangat kecewa karena surat pemberitahuan dari Pemerintah Singapura sangat mendadak, yakni pada 13 Desember 2021 atau dua hari menjelang laga ketiga Grup B Piala AFF 2020 kontra Vietnam padahal Elkan Baggott yang tiba di Singapura pada 8 Desember 2021 sudah sempat berlatih dan bertanding sebelum mendapatkan perintah dari Pemerintah Singapura untuk karantina.
Elkan Baggot sendiri mengaku tak tahu kalau telah melanggar batas bubble seperti yang diklaim Singapura.
"Saya ingin mengklarifikasi sesuatu kepada para suporter. Kami tak tahu sama sekali kalau telah melanggar aturan. Salah satu ofisial (Timnas Indonesia) bilang kepada kami seperti ini, 'kalian boleh keluar dari hotel untuk mencari udara segar dan membeli kebutuhan dasar di toko 7-Eleven'," ujar Elkan via Instagram soal larangan bermain di leg kedua Final Piala AFF 2020. "Oleh sebab itu, kami berani untuk meninggalkan hotel, dengan berasumsi kami tak melanggar aturan bubble. Penjelasan yang diberikan kepada media seolah-olah kami berempat yang bersalah, padahal tak seperti itu," tegas Elkan.
"(Hukuman itu) sangat mengecewakan. Pertama, sebelum itu saya mau mengucap terima kasih ke pemerintah Singapura dan Federasi Sepakbola Singapura (FAS) karena mengadakan Piala AFF walau sedang pandemi (COVID-19)," kata Shin Tae-yong seusai laga final malam tadi dilansir dari detik.com.
"Tapi sangat mengecewakan secara administrasi, banyak masalah di tengah-tengah karantina juga. Baru dikabarkan empat pemain tak bisa dimainkan jelang final. Ini akibat kejadian terjadi tanggal 15 (Desember 2021), karena terlalu sumpek di kamar terus," ungkapnya.
Sistem bubble yang dilakukan di Piala AFF dipilih agar peserta dari luar negeri tak membawa virus COVID-19 terutama varian Omicron. Pada kenyataannya, hotel yang ditunjuk panitia ternyata tidak steril dari masyarakat umum. Di hotel, para pemain tetap menjumpai orang lain yang bukan peserta Piala AFF.
"Pemain keluar hanya sebentar saja dikasih teguran penalti. Tak masalah sebenarnya, kami mengerti. Tapi, ada banyak orang umum di lantai (hotel) kami," tutur Shin Tae-yong. "Akhir pekan pun ada yang mabuk juga karena ada pesta. Sangat-sangat berisik dan membuat kami terganggu untuk istirahat. Ke depan harus ada perbaikan untuk masalah seperti ini agar kami fokus ke pertandingan saja," tegasnya.
Editor: Aspian Nur